Meracik Warisan Leluhur di Jalur Rempah Cirebon, Budaya Tetap Hidup, Ekonomi pun Ikut Tumbuh 

Meracik Warisan Leluhur di Jalur Rempah Cirebon
BERBASIS BUDAYA: Festival Jalur Rempah diikuti 75 peserta dari Ciayumajakuning dilaksanakan di Keraton Kacirebonan, Selasa (28/7/2026). Foto: Abdullah/Radar Cirebon
0 Komentar

Pemilihan Keraton Kacirebonan sebagai lokasi acara juga dinilai sangat tepat mengingat sejarah panjang Cirebon sebagai salah satu pusat dan sentra perdagangan rempah di masa lalu. Sebagai wilayah pesisir yang memiliki kerajaan bersejarah, kata Abdulgani, Cirebon sejak dahulu memegang peranan penting dalam jalur distribusi rempah-rempah. Sejarah ini melahirkan beragam kearifan lokal yang masih relevan dan berpotensi untuk terus dikembangkan hingga saat ini.

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menggali tradisi budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat, seperti tradisi kepengantinan dan perawatan tubuh berbasis rempah,” ujarnya.

Menurut Abdulgani, rempah-rempah dan jamu ini sangat identik dengan tradisi kepengantinan Cirebon. Busana dan busana adat kepengantinan yang khas, dipadukan dengan tradisi minum jamu tradisional untuk perawatan pengantin agar terlihat anggun dan terawat, merupakan bagian penting dari warisan budaya kita.

Baca Juga:Akses TPAS Gunung Santri Belum Dibuka, Warga Cirebon Barat Terancam Hadapi Masalah SampahPencurian 177 Buku Nikah di KUA Kesambi, Kemenag Bekukan Nomor Seri untuk Antisipasi Penyalahgunaan

Melalui workshop jamu tradisional dan perawatan pengantin ini, diharapkan nilai-nilai kearifan lokal Cirebon tidak hanya tetap terjaga, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan para peserta. (*)

0 Komentar