Dari Pelatihan yang Digelar Program Studi D-III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon 

pelatihan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon
PELATIHAN: Sebanyak 24 guru dari 14 PAUD dan TK di wilayah kerja Puskesmas Larangan mengikuti pelatihan. Foto: Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon for RADAR CIREBON
0 Komentar

Tak kalah penting, peserta memperoleh pemahaman bahwa kekerasan seksual tidak selalu berupa kontak fisik. Psikolog Sofia Halida Fatma SPsi MPsi menjelaskan berbagai bentuk kekerasan nonfisik juga perlu diwaspadai, seperti memperlihatkan materi pornografi kepada anak, meminta anak memperlihatkan bagian tubuh pribadinya, atau melibatkan anak dalam eksploitasi seksual.

Selain aspek pencegahan, guru juga dibekali prosedur deteksi dini, penanganan awal, hingga mekanisme pelaporan apabila menemukan dugaan kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah.

Melalui pelatihan ini, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman bagi tumbuh kembang anak. Sebab, perlindungan anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

Baca Juga:Wilayah Argasunya Krisis Air Bersih dan KekeringanKerusakan GTC Makin Parah, Pemkot Didesak Segera Ambil Alih 

“Untuk memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari kekerasan seksual, diperlukan kerja sama yang baik antara orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah,” tegas Neli.

Di tangan para guru PAUD dan TK, pelajaran tentang mengenal diri sendiri kini memiliki makna yang lebih besar. Bukan sekadar mengenalkan nama anggota tubuh, melainkan membekali anak dengan keberanian menjaga diri sejak dini. Langkah sederhana itu diyakini dapat menjadi pondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. (*/opl)

Laman:

1 2
0 Komentar