Ia pun memiliki mimpi yang lebih besar, yakni menghadirkan sekolah tenis meja di Kota Cirebon sebagai pusat pembinaan atlet sejak usia dini.
Harapan itu mendapat dukungan dari General Manager PT Japfa Comfeed Cirebon, Dwi Priyastoko. Baginya, tenis meja bukan sekadar olahraga, tetapi juga media membangun kebersamaan.
“Saya memang hobi bermain tenis meja. Biasanya dalam seminggu bisa tiga kali bermain di kantor. Turnamen seperti ini bagus karena bisa mempertemukan banyak kalangan dalam suasana yang akrab,” ujarnya.
Baca Juga:Antrean Panjang, Evaluasi Pengaturan APILLBalaikota Mulai Lengang, ASN Bersiap Bekerja di GCM, Meja Kursi Diangkut, Pekan Depan Kantor Aktif
Menurut Dwi, keberadaan sekolah tenis meja akan memperkuat sistem pembinaan atlet di Kota Cirebon. Dengan pembinaan yang berjenjang, Kota Cirebon diharapkan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi dari hasil pembinaan sendiri.
“Kalau pembinaannya berjalan baik, ke depan Kota Cirebon tidak perlu lagi mengandalkan atlet dari luar daerah saat mengikuti kejuaraan. Atlet yang bertanding benar-benar lahir dari hasil pembinaan daerah sendiri,” katanya.
Di balik persaingan memperebutkan poin, turnamen ini menghadirkan pesan yang lebih besar. Tenis meja terbukti mampu menghapus sekat profesi dan jabatan. Di atas meja pertandingan, yang berbicara bukanlah pangkat atau posisi, melainkan refleks, strategi, dan semangat sportivitas.
Melalui kegiatan seperti ini, PTMSI Kota Cirebon berharap tenis meja tidak hanya menjadi olahraga prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Sebab, dari sebuah bet dan bola kecil, lahir kebersamaan, persahabatan, sekaligus harapan akan munculnya atlet-atlet masa depan yang mengharumkan nama Kota Cirebon. (*)
