BPBD Provinsi Jawa Barat juga menetapkan Kota Cirebon sebagai salah satu penyelenggara posko kolaborasi siaga bencana terbaik pada arus mudik dan balik Idulfitri 2026.
Meski demikian, tantangan kebencanaan di Kota Cirebon tidak hanya berupa banjir atau kondisi darurat yang membutuhkan evakuasi dari ketinggian. Memasuki puncak musim kemarau, ancaman lain mulai dirasakan masyarakat, yakni kekeringan.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Agustus 2026 merupakan periode puncak musim kemarau.
Baca Juga:Rp4,6 Miliar untuk Pembebasan Lahan, Pembangunan TPST Gempol oleh InvestorBidik Teknologi PSEL untuk Olah Seribu Ton Sampah
Hingga 4 Agustus 2026, kekeringan telah melanda tiga RW di Kelurahan Argasunya. Sebanyak 1.404 kepala keluarga atau 3.271 jiwa terdampak dan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Pemkot Cirebon pun bergerak. Melalui BPBD, PDAM, dan PMI, pemerintah telah mendistribusikan 45.000 liter air bersih bagi warga terdampak.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanggulangan bencana tidak cukup dilakukan ketika masyarakat sudah berada dalam kondisi krisis. Antisipasi harus dilakukan lebih awal.
“Ke depan, pemerintah dan masyarakat harus terus memperkuat upaya preventif, termasuk memastikan ketersediaan pasokan air sebelum krisis terjadi,” tandas Effendi.
Simulasi penyelamatan dari atas gedung yang menegangkan di GCM akhirnya berakhir. Namun, pesan yang dibawanya masih jauh dari selesai: kesiapsiagaan terbaik adalah kesiapan yang dibangun sebelum bencana datang. (*)
