RADARCIREBON.ID – Dari balik lensa, Sanggar Kentjana (SK) Cirebon memilih caranya sendiri untuk mengisi kemerdekaan. Sejak berdiri pada 2009, komunitas fotografi ini terus menjaga eksistensi dengan berkarya, sekaligus menghadirkan ruang bagi anggotanya untuk berekspresi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Ya, bagi Sanggar Kentjana (SK) Cirebon, kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan bangsa. Di usia ke-81 Republik Indonesia, komunitas fotografi itu memaknai kemerdekaan sebagai ruang untuk terus menghasilkan karya dan terus berekspresi.
Melalui fotografi, anggota Sanggar Kentjana berupaya merekam keberagaman Indonesia dan mengangkat berbagai sisi kehidupan masyarakat yang belum banyak diketahui publik. “Bagi kami, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan untuk berkarya, berekspresi, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” kata Agung Akbar, Ketua Sanggar Kentjana Cirebon didampingi Neny Andrika, salah satu pengurus Sanggar Kentjana.
Baca Juga:Kemenag Edukasi WO soal Syariat NikahKPBU APJ Pemkot, Fitrah: Kalau Jadi, Harus Dibicarakan Lagi
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan dan karya fotografi yang mengangkat budaya, kehidupan masyarakat, destinasi, hingga peristiwa yang menyimpan cerita tentang Indonesia. Bagi Sanggar Kentjana, fotografi bukan sekadar aktivitas menghasilkan gambar.
Kamera menjadi medium untuk mendokumentasikan perjalanan zaman, merekam kehidupan masyarakat, memperkenalkan potensi daerah, sekaligus menyampaikan cerita dan nilai-nilai budaya. Di dalam komunitas, kegiatan berkarya juga menjadi ruang bagi anggota untuk belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kemampuan bersama. Karena itu, berkarya dan memberikan manfaat kepada orang lain dinilai sebagai bentuk perjuangan yang relevan bagi generasi masa kini.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Sanggar Kentjana juga melihat generasi muda menghadapi tantangan untuk tetap produktif sekaligus memiliki karakter. Kemudahan memperoleh informasi dan mengikuti tren perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, rasa tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Generasi muda, menurut Agung Akbar dan Neny, tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Teknologi harus dimanfaatkan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Usia ke-81 Indonesia, Sanggar Kentjana berharap kemajuan bangsa dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberagaman dan nilai-nilai budaya sebagai identitas Indonesia. Ruang bagi generasi muda untuk berkarya, berinovasi, dan berkontribusi juga diharapkan semakin terbuka.
