RADARCIREBON.ID — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 05 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) mengembangkan pengolahan limbah organik yang diintegrasikan dengan budidaya ikan sebagai bagian dari program EcoSmart Waste dan Ketahanan Pangan di Desa Pajawanlor, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan.
Program yang dilaksanakan Rabu (19/8/2026) tersebut melibatkan Kampus Berdampak dan dosen Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKOE). Kegiatan diawali dengan persiapan alat dan bahan, kemudian dilanjutkan dengan perakitan serta pengembangan sistem komposter.
Dosen Pembimbing KKM UMC, Johan, MT, mengatakan program tersebut dirancang untuk menghubungkan pengelolaan limbah organik dengan kebutuhan pangan masyarakat. Limbah organik diolah melalui proses fermentasi dan penguraian untuk menghasilkan mikroorganisme lokal (MOL), pupuk organik, dan maggot.
Baca Juga:Kisah Ahmad Khoeri, Guru Indramayu Pengelola 10.000 Buku yang Bawa Literasi ke Desa dengan MotorDamkar Indramayu Edukasi Pengelola dan Pemulung TPA Pecuk
“Konsepnya bukan hanya mengolah sampah, tetapi bagaimana limbah organik bisa kembali dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan. Karena itu, pengelolaan limbah kami integrasikan dengan budidaya ikan dan tanaman,” ujar Johan.
Dalam sistem yang dikembangkan, maggot yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik direncanakan menjadi salah satu alternatif pakan ikan lele. Sementara hasil pengolahan organik lainnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya tanaman pada tahap berikutnya.
Mahasiswa KKM 05 UMC juga melakukan penebaran ikan lele pada sistem budidaya yang telah disiapkan. Menurut Johan, pendekatan tersebut diharapkan dapat membentuk pola pemanfaatan sumber daya yang lebih terintegrasi, mulai dari pengelolaan limbah, produksi pakan, budidaya ikan, hingga pemanfaatan hasil pengolahan untuk tanaman.
“Ini masih tahap awal. Jadi, kami perlu melihat bagaimana proses pengolahan limbahnya berjalan dan seperti apa hasil yang diperoleh. Setelah itu akan dilakukan pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang perlu dikembangkan,” katanya.
Kolaborasi lintas kampus menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa UMC bersama Kampus Berdampak dan dosen UMKOE bertukar pengetahuan serta pengalaman untuk menyesuaikan teknologi tepat guna dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Pajawanlor.
Setelah praktik lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi dan diskusi mengenai program kerja masing-masing pihak. Pembahasan mencakup pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
