RADARCIREBON.ID- JAKARTA- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terus berupaya untuk memperkuat toleransi dan moderasi beragama, salah satunya melalui diplomasi keagamaan (religious diplomacy) yang berpusat di Masjid Istiqlal Jakarta. Menag menegaskan pentingnya diplomasi keagamaan (religious diplomacy) sebagai pendekatan baru dalam menciptakan perdamaian dunia.
Hal ini diungkapkan Menag saat penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU) antara Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dengan Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Amerika Serikat.
“Langkah ini merupakan bagian dari misi kita untuk mempromosikan diplomasi keagamaan. Kita ingin menunjukkan bahwa Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, toleransi, dan pendidikan kemanusiaan yang terbuka bagi siapa saja,” ujarnya di Istiqlal, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga:Rekor Spektakuler! Bagja College Antarkan 12 Siswa Cirebon ke UIAndri Satria Jadi Dirut, Agung Astija Posisi Dirum, Wali Kota Tetapkan Direksi Perumda Tirta Giri Nata
Ia menyatakan bahwa nilai kemanusiaan (humanity) merupakan landasan utama dalam menjalin kolaborasi lintas bangsa dan kepercayaan. Di hadapan Presiden HIU Sherry L. Turner beserta delegasi, Direktur PKUMI KH. Akhmad Thib Raya serta para civitas akademika PKUMI, Menag juga mengulas berbagai fasilitas inklusif di lingkungan Masjid Istiqlal, di antaranya ruang kolaborasi antarnegara, pusat kebugaran, layanan kesehatan gratis, hingga keberadaan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta.
Sementara itu, Presiden HIU, Sherry L. Turner, mengapresiasi atas sambutan hangat serta konsep keterbukaan yang diterapkan di Masjid Istiqlal. Menurutnya, simbol kebersamaan seperti Terowongan Silaturahmi merupakan simbol toleransi bagi dunia internasional.
“Terowongan ini bukan sekadar fisik, melainkan ‘terowongan persahabatan’ yang menghubungkan hati satu sama lain. Masjid Istiqlal memberikan suasana yang sangat damai dan menjadi cerminan nyata dari moderasi beragama masyarakat Indonesia,” ungkap Sherry saat ditemui usai penandatanganan MoU, dilansir dari rilis Kemenag.
Melalui penandatanganan MoU ini, PKUMI dan HIU berkomitmen untuk memperkuat program pendidikan, riset bersama, pertukaran akademisi, serta pengembangan program ulama, termasuk ulama perempuan. Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi contoh konkret peran lembaga keagamaan dalam membangun perdamaian dunia. (rc)
