RADARCIREBON.ID – Tidak ada jalan pintas untuk menembus benteng Universitas Indonesia (UI). Di Depok sana, persaingan bak arena gladiatorketat, sengit, dan tak kenal ampun. Namun, dari sebuah sudut kota di Jalan Pembangunan, Kota Cirebon, bimbingan belajar Bagja College justru berhasil mencatatkan rekor spektakuler: meloloskan 12 siswanya sekaligus menembus PTN terbaik di Indonesia tersebut pada musim seleksi 2026 ini.
Pencapaian ini bukan sekadar angka statistik biasa. Dari total 12 anak yang lolos, separuhnya -alias enam orang- berhasil menjebol salah satu program studi paling tajam persaingannya di tanah air: Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi UI.
Enam calon dokter tersebut adalah Kaisar Kiano Rafisukmawan dari jalur Talent Scouting, serta KGS. Asyrafa Fattan Halim, Muhammad Abiyyu Ziaulhaq, Ratu Kiren Revanka, Vincent Kristian Waluyo, Zahra Hisbia, dan Talitha Mumtaaz dari jalur SNBT-UTBK.
Baca Juga:KPBU APJ Rawan Masalah Hukum Dewan Minta Wali Kota Urungkan Niat karena Risiko TinggiRevitalisasi Gedung Setda Dibedah Bertahap, Modal Awal Rp10 M
Sementara itu, empat siswa lainnya mengamankan kursi panas di Fakultas Teknik UI, yakni Galang Sakha Adinata A pada jurusan Teknik Industri lewat Talent Scouting, disusul Ali Akmal di Teknik Perkapalan dan Muhammad Iffat di Teknik Industri lewat jalur tes nasional.
Dua sisa kursi bergengsi diisi oleh Davina Najwa Pramanata di jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI melalui Talent Scouting, serta Abdul Aziz Ar Roisi di jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
Bagaimana modal anak-anak daerah ini bisa melibas ribuan pesaing dari sekolah-sekolah ternama di seluruh Indonesia? Jawabannya ada pada sistem penggemblengan yang tidak biasa. Cerita sukses ini bermula dari sebuah villa terpencil di kawasan Kuningan, Jawa Barat. Di sanalah program bertajuk Supercamp digelar.
Selama dua minggu penuh, para siswa diasingkan dari dunia luar. Ponsel dibatasi, gangguan dipangkas, dan fokus diisolasi hanya pada satu sasaran: soal-soal seleksi masuk UI. Jadwalnya membuat geleng-geleng kepala. Setiap hari, proses belajar dimulai tepat pukul 08.00 WIB dan baru berakhir pukul 23.00 WIB.
Total 15 jam sehari mereka bergulat dengan kalkulasi teknik, kedokteran, hingga penalaran logis. Waktu yang sangat panjang itu diisi dengan pembedahan konsep, pembongkaran trik soal, analisis kesalahan, hingga evaluasi kemampuan berkala yang terukur. Karantina ini bukan sekadar belajar marathon, melainkan kawah candradimuka untuk meremukkan mental kerdil dan membangun disiplin baja. Ketika lelah melanda di tengah malam, daya juang kawan seangkatan menjadi bensin tambahan.
