RADARCIREBON.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon berencana mereplikasi model edukasi gizi dan lingkungan terintegrasi yang diterapkan SMPN 7 Kota Cirebon ke 215 sekolah negeri dan swasta di wilayah tersebut. Program ini diproyeksikan menjadi pilot project daerah untuk meningkatkan kualitas kesehatan, karakter, dan kesadaran lingkungan peserta didik.
Langkah tersebut menyusul prestasi SMPN 7 yang berhasil menembus ajang Nutrition Goes to School (NGTS) tingkat Asia Tenggara. Berdasarkan Surat Keputusan SEAMEO RECFON Nomor 866/RECFON-DIR/S-70/VII/2026 tertanggal 28 Juli 2026, SMPN 7 masuk dalam delapan besar sekolah nasional dan terpilih sebagai satu dari empat wakil Indonesia yang menjadi pemateri dalam Diskusi Panel Sekolah/Madrasah NGTS Berbagi.
Keberhasilan itu tidak lepas dari upaya sekolah membangun ekosistem gizi mandiri yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. SMPN 7 mengembangkan berbagai unit produksi pangan, mulai dari budidaya burung puyuh, peternakan ayam petelur, kolam lele, hingga budidaya jamur yang dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi siswa.
Baca Juga:Resmi Ditutup, Hanya Satu Calon yang Daftar Ketua Kadin Cirebon2027, PPPK Paruh Waktu Berpeluang Diangkat Penuh Waktu, Ini Kata BKPSDM Cirebon
Selain itu, kawasan hutan sekolah dimanfaatkan sebagai kebun penghasil vitamin dan serat. Hasilnya kemudian diolah langsung oleh siswa melalui kegiatan cooking class yang mengusung konsep Isi Piringku. Sekolah juga menerapkan penggunaan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya.
Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan Dasar Disdik Kota Cirebon, Dr Ade Cahyaningsih, menilai SMPN 7 berhasil menjawab tantangan besar dunia pendidikan, yakni mengimplementasikan teori menjadi praktik nyata yang berdampak langsung bagi peserta didik.
“Hal paling sulit yang sudah berhasil dilakukan SMPN 7 adalah bagaimana mengimplementasikan pemenuhan gizi secara langsung di lingkungan sekolah (how to implement),” kata Ade saat meninjau SMPN 7, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, model yang diterapkan SMPN 7 dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di Kota Cirebon. Namun, sebelum mengembangkan program gizi mandiri, sekolah-sekolah terlebih dahulu didorong memenuhi kriteria Sekolah Adiwiyata sebagai fondasi pengelolaan lingkungan yang baik.
“Lingkungan yang tertata menjadi dasar penting sebelum sekolah mengembangkan berbagai inovasi di bidang gizi dan kesehatan,” ujarnya.
Kepala SMPN 7 Kota Cirebon, Dr Hj Euis Sulastri, menjelaskan keberhasilan program NGTS di sekolahnya ditopang oleh empat pilar utama, yaitu edukasi gizi, kantin sehat, kebun gizi, dan kewirausahaan berbasis gizi.
