RADARCIREBON.ID -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat 144 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Temuan tersebut masih didominasi kelompok usia produktif, terutama mereka yang berada pada rentang usia 25 hingga 49 tahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih mengatakan, dari kelompok usia 25-49 tahun terdapat 95 kasus.
Baca Juga:UMKM Sumbang 97 Persen Ekonomi Cirebon, Koperasi Didorong Jadi Penyerap ProdukKebut Merger BKC-BCJ, Siapa Pemegang Saham Terbesar Bank Baru?
Rinciannya, 77 kasus ditemukan pada laki-laki dan 18 kasus pada perempuan. “Paling tinggi itu usia produktif 25 sampai 49 tahun,” ungkap Mona.
Secara keseluruhan, kasus baru HIV pada semester pertama 2026 juga lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Proporsinya sekitar 80 persen, sedangkan perempuan berada di kisaran 20 persen.
Jika berdasarkan populasi, sebanyak 42 kasus ditemukan pada lelaki seks dengan lelaki (LSL). Kemudian lima kasus pada transgender, lima kasus pada pekerja seks perempuan (WPS), dan satu kasus pada warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Selain itu, Dinkes mencatat empat kasus HIV pada ibu hamil dan 38 kasus pada pasien tuberkulosis (TBC).
Sementara 49 kasus lainnya masuk kategori lain-lain, yang mencakup calon pengantin, masyarakat umum, pasien di luar populasi kunci dan khusus, serta orang yang menjalani pemeriksaan sebelum operasi.
Mona mengatakan, jumlah temuan kasus HIV pada 2026 sejauh ini belum menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, Dinkes Kabupaten Cirebon mencatat 297 kasus HIV. Sedangkan pada 2024 terdapat 464 kasus. Secara kumulatif, kasus HIV yang tercatat sejak 2021 hingga Juni 2026 mencapai 4.173 kasus.
Baca Juga:Sawah Produktif Terus Tergerus, SPI Cirebon Soroti Ancaman Ketahanan PanganPDAM Tirta Jati Cirebon Gratiskan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Menurut Mona, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya diukur dari meningkat atau menurunnya jumlah kasus yang ditemukan.
Hal yang lebih penting adalah memastikan kelompok berisiko mendapatkan pemeriksaan secara rutin dan pasien yang dinyatakan positif segera memperoleh pengobatan.
“Tentu kita berharap penurunan kasus. Tapi semua populasi kunci yang berisiko harus dilakukan screening. Kita juga memastikan kalau ada yang positif ya mendapatkan pengobatan,” ujarnya.
Untuk memperluas deteksi dini, Dinkes Kabupaten Cirebon menargetkan screening HIV terhadap sekitar 52 ribu orang sepanjang 2026. Sasaran tersebut berasal dari populasi kunci dan populasi khusus.
Hingga semester pertama, realisasi screening telah mencapai 47 persen dari target tahunan. Layanan pemeriksaan HIV juga telah diperluas. Saat ini screening tersedia di 60 puskesmas di Kabupaten Cirebon serta seluruh rumah sakit yang ada di wilayah tersebut.
