RADARCIREBON.ID – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) mengembangkan konsep Living Laboratory Learning (3L) dengan menjadikan desa sebagai ruang belajar mahasiswa. Salah satu lokasi program tersebut ialah Desa Cikondang, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan.
Program 3L dirancang agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Melalui kegiatan itu, mahasiswa mempelajari potensi desa, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, serta berbagai persoalan yang ditemui di lapangan.
Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UMC Johan MT mengatakan, 3L merupakan program yang dirancang untuk mewujudkan laboratorium pembelajaran berbasis desa.
Baca Juga:PSTI Kabupaten Indramayu Targetkan Tiga Emas PorprovPetugas Gabungan Perlu Waktu 3 Jam Untuk Padamkan Kebakaran Kebun di Kroya
“3L adalah salah satu program yang direncanakan Pak Rektor untuk menyongsong bahwa universitas sekarang harus mempunyai laboratorium berbasis desa. Desa merupakan tulang punggung kemajuan Indonesia,” ujar Johan.
Menurut dia, konsep living laboratory menempatkan lingkungan masyarakat sebagai ruang pembelajaran yang nyata. Mahasiswa tidak sekadar menjalankan kegiatan, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyusun program, dan mencari solusi atas persoalan yang ditemukan di masyarakat.
Rektor UMC Arif Nurudin, S.T., M.T., mengapresiasi pelaksanaan Living Laboratory Learning tersebut. Menurut dia, keberadaan laboratorium berbasis desa merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi menghadirkan model pembelajaran yang lebih kontekstual.
“Laboratorium tidak selalu harus berada di dalam kampus. Desa dengan seluruh potensi dan persoalannya juga merupakan ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa,” kata Arif.
Ia berharap program tersebut dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa, kata dia, diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Desa Cikondang dipilih sebagai salah satu lokasi 3L bersama Desa Gunung Manik dan Desa Pajawan Lor. Potensi sosial, ekonomi, lingkungan, serta aktivitas masyarakat di desa tersebut menjadi bagian dari objek pembelajaran mahasiswa.
Kepala Desa Cikondang Lia Nurayanah, S.P., menyambut baik penempatan desanya sebagai lokasi Living Laboratory Learning. Menurut dia, program tersebut menjadi peluang kerja sama antara desa dan perguruan tinggi.
Baca Juga:Peta Administrasi Desa Panyosogan Diperbarui lewat Pena DesaSiaga Hadapi Sebaran Abu Vulkanik, Pemkab Majalengka Terbitkan Surat Edaran
“Suatu kebanggaan dan kehormatan bagi Desa Cikondang telah dijadikan tempat Living Laboratory Learning. Ini menjadi wadah kerja sama. Semoga desa kami terus dijadikan tempat laboratorium pembelajaran untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di perguruan tinggi,” ujar Lia.
