UNU Cirebon Terapkan Teknologi ATIFiC, Budi Daya Ikan Brek di Durajaya Makin Efisien

KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
SOSIALISASI: Tim PKM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon menerapkan teknologi ATIFiC untuk budi daya ikan brek di Desa Durajaya, kemarin.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Pengelolaan kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam budi daya ikan brek di Desa Durajaya, Kabupaten Cirebon.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon menerapkan teknologi Aqua-TSS Intelligent Filtration Controller (ATIFiC) di BUMDes Jaya Abadi Desa Durajaya.

Penerapan teknologi tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

ATIFiC dirancang untuk membantu pengelola memantau kondisi air sekaligus mengendalikan sistem filtrasi secara lebih terukur.

Baca Juga:Knalpot Bising Kena Razia, Satlantas Kuningan Tertibkan Puluhan MotorBupati Sebut Karhutla Kawasan TNGC Kuningan Capai 40 Hektare

Ketua Tim Pelaksana PKM UNU Cirebon Asep Rachmat Pratama mengatakan, kualitas air memiliki pengaruh langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhan ikan.

“Kalau kondisi airnya tidak terjaga, tentu akan berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan ikan,” kata Asep.

Menurutnya, penggunaan ATIFiC diharapkan dapat membuat pengelolaan kualitas air lebih efisien.

Pengelola tidak harus sepenuhnya mengandalkan pemeriksaan secara manual untuk mengetahui kondisi air kolam.

“Kami ingin pengelolaan air ini bisa lebih terukur dan efisien. Jadi, kondisi air bisa dipantau dan sistem filtrasi bisa menyesuaikan,” ujarnya.

Anggota Tim Pelaksana PKM Dheni Dwi Pangestuti menambahkan, pengelolaan kualitas air secara manual membutuhkan waktu, tenaga dan biaya operasional yang tidak sedikit.

“Kalau dilakukan manual terus, tentu waktunya lebih banyak, tenaganya juga lebih besar, begitu pula biaya operasionalnya,” kata Dheni.

Baca Juga:Bupati Saba Lembur di Subang, Warga Antusias Sampaikan Aspirasi110 PNS Terima SK Pensiun, Bupati Kuningan Minta Persiapkan Mental 

Sementara itu, Anggota Tim PKM Teguh Arlovin menjelaskan, ATIFiC memanfaatkan sensor untuk membaca tingkat kekeruhan air.

Data dari sensor tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk membantu mengendalikan sistem filtrasi.

“Intinya, kita ingin membantu pengelola melihat tingkat kekeruhan air secara otomatis, sehingga proses filtrasi bisa lebih optimal,” jelas Teguh.

Selain pemasangan perangkat, tim PKM UNU Cirebon memberikan sosialisasi, pelatihan, praktik dan pendampingan kepada pengelola BUMDes Jaya Abadi.

Materi yang diberikan meliputi pengelolaan kualitas air, kesehatan ikan, sistem filtrasi hingga pengoperasian ATIFiC.

Pendampingan tersebut dilakukan agar teknologi yang diterapkan dapat digunakan secara mandiri dan menjadi bagian dari kegiatan rutin budi daya ikan brek.

Ikan brek sendiri dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas perikanan bernilai ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

0 Komentar