Oleh karena itu, upaya mengenali potensi penyebaran paham intoleran dan radikal tidak bisa hanya mengandalkan ciri-ciri fisik atau penampilan seseorang.
“Pandangan semacam ini bisa meningkatkan kesalahan dalam deteksi awal terhadap orang-orang yang ditengarai punya paham intoleran-radikal,” tambah Yahya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan bagi tenaga pendidik mengenai pencegahan dan penanganan sikap intoleransi serta kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.
Baca Juga:PASI Lakukan Pemasalan lewat Kejuaraan Pelajar, dari TK hingga SMPBaru Pelepasan, Atlet Kota Cirebon Langsung Raih Emas Perdana di Porprov Jabar XV/2026
Dalam sesi tersebut, psikolog Dra Reni Kusumowardhani MPsi, hadir sebagai narasumber dan menekankan pentingnya membangun komunikasi efektif antara guru, orang tua, dan anak.
Reni menjelaskan, komunikasi dua arah memang membutuhkan upaya dan pendekatan lebih dibandingkan komunikasi satu arah.
Namun, pola komunikasi tersebut sangat penting untuk membangun kedekatan emosional, memahami persoalan yang dihadapi anak, serta mencari solusi secara bersama-sama.
Menurutnya, orang tua dan guru perlu memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai persoalan yang menyebabkan anak kurang terbuka atau tidak memiliki kedekatan dengan lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Orang tua atau guru harus bisa mengidentifikasi permasalahan ataupun kekurangan mereka apabila anaknya tidak dekat dengan orang tua atau guru,” jelas Reni.
Pelatihan selanjutnya membahas strategi mengurangi perilaku kekerasan dan sikap intoleransi di lingkungan pendidikan.
Sesi tersebut menghadirkan Tenaga Ahli BNPT Bidang Kontra Narasi, Prof (HC) M Suaib Tahir Lc MA PhD, serta dosen Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka), Muhammad Abdullah Darraz MA.
Baca Juga:Cegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja, Kuncinya Fondasi Keluarga serta Edukasi BerkesinambunganBNPT Perkuat Ketahanan Digital dan Kearifan Lokal melalui Regenerasi Duta Damai di Sumatera Utara
Dalam pemaparannya, Suaib Tahir menjelaskan, perilaku kekerasan yang dilakukan anak maupun pelajar sering kali tidak muncul tanpa sebab.
Berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis, perkembangan karakter, hingga perilaku anak ketika berada di sekolah.
Karena itu, penanganan terhadap tindakan kekerasan tidak cukup hanya berfokus pada perilaku yang terlihat.
Latar belakang permasalahan, kondisi keluarga, serta lingkungan sosial anak juga perlu menjadi perhatian agar upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.
Sementara itu, Muhammad Abdullah Darraz menekankan bahwa paparan paham radikalisme dan terorisme terhadap guru maupun siswa sering kali berasal dari luar lingkungan sekolah.
