Sebagai salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia dari tangan penjajah, Cirebon memiliki sejumlah tokoh pelaku sejarah perjuangan. Bahkan sebagian gugur di medan pertempuran.
SEJUMLAH pejuang kemerdekaan yang gugur tersebut, saat ini baru dikenang dengan menjadikan para pejuang tersebut sebagai nama-nama jalan. Diantaranya Kapten Samadikun, Kapten Damsur, Jalan Saleh, dan lain sebagainya.
Padahal, melihat historis dan peran mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari bangsa penjajah, sejumlah tokoh tersebut cukup layak untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional.
Dalam Undang-undang 20/2009 tengan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Yang dimaksud dengan pahlawan nasional adalah, Gelar yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia, atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meningal dunia demi membela Bangsa dan Negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan, atau menghasilkan prestasi dan karya yang luara biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara republik Indonesia.
Ketua GM FKPPI Kota Cirebon, Dany Jaelani menceritakan, dalam catata sejarah yang selama ini beredar di masyarakat, Lettu Laut Samadikun merupakan pejuang asal Cirebon yang juga sebagai perwira di Kapal Perang Gajah Mada. Pada tahun 1947, Kapal Perang Gajah Mada pada 1947 melakukan latihan perang di perairan Teluk Cirebon.
Di waktu yang bersamaan, datang kapal perang Belanda yang bermaksud melakukan invasi dengan merencanakan pendaratan di sekitar Cirebon. Sempat terjadi peperangan di Teluk Cirebon, yang menenggelamkan kapal perang Gajah mada. Lettu Samadikun dan para awak kapalnya gugur dalam insiden ini.
Versi sejarah lain menyebutkan, dalam peperangan di teluk Cirebon itu, karena kondisi armada dan persenjataan pihak penjajah lebih kuat, diprediksi pasukan kapal perang Indonesia bakal kalah.
Melihat potensi kekalahan tersebut, armada Kapal perang Gajah Mada dibawah komando Lettu Laut Samadikun berinisiatif untuk menabrakan diri kapal perang mereka, ke arah kapal perang musuh. Agar para penjajah Belanda tersebut tidak bisa sandar di daratan Cirebon.
