Menurutnya, terdapat beberapa pengurangan seperti kuantitas struktur beton yang seharusnya mencapai 37,33 persen secara keseluruhan, namun berdasarkan uji lapangan hanya mencapai 14.97 persen. “Sehingga ada selisih 22,36 persen,” ucap Iskandar di ruang sidang.
Tak hanya struktur beton, pengurangan kuantitas juga menurutnya terjadi terhadap pekerjaan pasangan. Di mana berdasarkan hasil pengecekannya, Iskandar menyebut terdapat selisih pengurangan sebanyak 3,7 persen. “(Kemudian) Pekerjaan kusen pintu
jendela ada selisih 0,13 persen, pekerjaan lantai 0,95 persen, pekerjaan plafon 0,29 persen, pekerjaan atap utama 0,52 persen, pekerjaan MEP dan lain-lain 2,48 persen, dan finishing 2,28 persen. Sehingga totalnya adalah 32,73 persen,” ucapnya.
Baca Juga:SMAN 2 Cirebon Ditunjuk Jadi Sekolah Maung, Seleksi Siswa Dipercepat, Standar Cambridge DiberlakukanJejak Duit Gedung Setda Diungkap, Hari Ini BPK Ikut Sidang, Furqon: Kami Dorong JPU Dalami Keterangan Agung
Dengan adanya kondisi tersebut, Iskandar mengatakan struktur bangunan Gedung Setda Kota Cirebon saat ini masuk dalam kondisi rawan. Sebab, kata dia, dengan adanya pengurangan tersebut, lambat laun Gedung Setda Kota Cirebon akan mengalami kerusakan, bahkan runtuh.
“Artinya setiap saat itu berbahaya. Cuma kita tidak tahu kapan gedung itu akan runtuh. Jadi kalau misalnya gedung itu diisi penuh kapasitasnya, kemudian bebannya berupa lemari, arsip, dan segala macam diisi, kemudian ada gempa, nah kalau semua beban itu bekerja, plus ada gempa, ya dia bakal runtuh,” ungkapnya.
“Jadi, artinya kalau pekerjaan itu dikerjakan sebenarnya berdasarkan spesifikasi teknis, gedung itu akan baik-baik saja karena kualitas beton dan bajanya
terpenuhi. Kalau dibangun sesuai dengan biaya yang disebutkan tadi (86 miliar), harusnya gedung ini bagus. Tapi dengan adanya downgrade tersebut, itu pasti semuanya ikut turun, termasuk daya tahannya,” imbuhnya. (abd/san)
