Selain itu, terdapat pula nama KH Abdul Chalim yang disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal NU dan masih memiliki keterkaitan historis dengan kawasan Cirebon Raya.
“Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Cirebon bukan wilayah pinggiran dalam sejarah NU, melainkan salah satu mata air penting yang ikut menghidupkan jam’iyah sejak masa awal berdirinya,” ungkapnya.
Selain faktor sejarah, PCNU juga menilai Cirebon sangat representatif dari sisi geografis dan fasilitas penunjang kegiatan nasional.
Baca Juga:Mahasiswa S2 Kesmas UBHI Gelar Pengabdian Masyarakat Ketika FK UGJ Menjadi Rujukan Belajar bagi Mahasiswa Belanda, Praktik Lapangan hingga Mempelajari Kasus Penya
Letaknya yang berada di tengah Pulau Jawa dinilai strategis dan mudah dijangkau dari berbagai daerah.
Akses menuju Cirebon saat ini didukung jaringan Tol Trans Jawa, jalur kereta api nasional, akses kendaraan darat antarkota, hingga keberadaan Bandara Internasional Kertajati yang disebut siap menopang mobilitas peserta muktamar dari berbagai wilayah Indonesia.
“Cirebon memiliki posisi strategis karena berada di tengah Pulau Jawa, sehingga relatif mudah diakses dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga luar pulau,” jelasnya.
Dari sisi fasilitas, kawasan Cirebon Raya juga disebut memiliki kesiapan yang cukup matang.
Selain didukung ratusan pesantren yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan dan penginapan peserta, tersedia pula hotel berbintang tiga dan empat dengan kapasitas sekitar 1.960 kamar.
KH Aziz menegaskan, Muktamar NU bukan hanya forum organisasi, tetapi juga momentum spiritual, kebudayaan, dan peneguhan arah peradaban Nahdlatul Ulama.
“Karena itu, Cirebon ingin mengambil bagian dalam khidmah besar tersebut. Menjadi tuan rumah yang tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga siap secara historis, kultural, dan batiniah,” tandasnya. (sam)
