Menurutnya, Cirebon dikenal sebagai bandar Jalur Sutra yang mempertemukan berbagai budaya melalui aktivitas perdagangan dan pelayaran.
Akulturasi budaya tampak dalam perpaduan unsur lokal dan pengaruh luar yang berkembang di masyarakat pesisir.
Kehidupan nelayan juga disebut menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat Cirebon.
Baca Juga:History Fair HIMSPI UINSSC Usung Tema “Beyond Heritage”, Soroti Transformasi Peradaban Islam di Era GlobalAda Larangan Nobar El Clasico Persija vs Persib, Pentolan Bobotoh Kecewa
Narasumber berikutnya, Dr Dede Burhanudin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membahas tema “Narasi Utama Hubungan Cirebon dan Melaka dalam Manuskrip”.
Ia menjelaskan bahwa hubungan historis kedua wilayah dapat ditelusuri melalui sastra pesisir seperti manuskrip, babad, pantun, parikan, dan pupuh.
Menurutnya, karya sastra tersebut menjadi arsip sosial yang menggambarkan akulturasi budaya Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, dan Melayu yang berkembang melalui jalur perdagangan maritim abad ke-15 hingga ke-16.
Sastra pesisir tidak hanya menjadi media hiburan dan dakwah Islam, tetapi juga mencatat sejarah masyarakat kecil, hubungan dagang, hingga nilai toleransi dalam masyarakat multikultural Nusantara.
Adapun Dr Tendi MHum, dosen Jurusan Sejarah Peradaban Islam UINSSC, menyampaikan materi bertema “Melacak Jejak Hubungan Cirebon dan Melaka”.
Ia menjelaskan bahwa hubungan historis antara Malaka dan Cirebon menjadi bagian penting dari jaringan maritim Asia Tenggara, terutama pasca penaklukan Malaka pada 1511.
Menurutnya, perubahan politik dan perdagangan saat itu mendorong reorientasi jalur pesisir Jawa sekaligus memperkuat penggunaan bahasa Melayu sebagai sarana konektivitas regional.
Baca Juga:Thirty Six Band, Band Pelajar Cirebon yang Tembus Kompetisi NasionalMenteri ATR/BPN RI Nusron Wahid Serahkan Sertifikat Wakaf Gedung PCNU Indramayu
Cirebon kemudian berkembang menjadi pelabuhan kosmopolitan yang menghubungkan perdagangan, diaspora Melayu, Islamisasi, hingga diplomasi antardaerah.
Panitia menghadirkan para narasumber tersebut untuk memperluas jejaring ilmu kesejarahan internasional sekaligus mempererat hubungan akademik antara institusi pendidikan di Indonesia dan Malaysia.
Setelah seminar internasional berlangsung, panitia melanjutkan kegiatan dengan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Islam, Text and Identity in Cirebon and Malaka: A Comparative Analysis”.
Diskusi tersebut dihadiri para dosen sejarah UINSSC dan membahas perkembangan wajah Islam di Malaka dan Cirebon yang pada masa lalu memiliki kemiripan, namun mengalami perbedaan dalam konteks kekinian. (mid)
