Sesuai petunjuk teknis Dinas Pendidikan, jalur zonasi atau domisili memegang kendali atas 45 persen dari total daya tampung sekolah. Angka ini memangkas persentase jalur-jalur lain seperti afirmasi yang dipatok 20 persen, prestasi 30 persen, dan mutasi tugas orang tua 5 persen.
Besarnya porsi zonasi ini memaksa masyarakat untuk bertaruh pada akurasi penarikan titik koordinat tempat tinggal. Kedekatan jarak rumah menuju gerbang sekolah menjadi penentu mutlak keselamatan posisi siswa di papan peringkat komputer.
Kepala SMPN 1 Cirebon, Lilik Agus Darmawan, menjelaskan bahwa pembagian persentase kuota ini sudah sesuai dengan aturan baku sistem penerimaan. Pihak sekolah tidak memiliki kewenangan mandiri untuk merubah postur formasi bangku yang telah ditetapkan oleh dinas.
Baca Juga:Aktivitas Masjid Miftahul Jannah Pelopori Kurban Digital, Siap Wakafkan Sistem ke Seluruh IndonesiaSMA Telkom Sekar Kemuning Sudah Siapkan 5 Ruang Kelas
“Sisanya domisili 45 persen. Iya, jadi semua jalur itu domisili paling besar,” kata Lilik kepada Radar Cirebon, Rabu (3/6/2026), di kampus yang berlokasi di Jalan Siliwangi tersebut.
Formasi sebelas rombongan belajar disiapkan untuk menampung siswa baru pada tahun ajaran kali ini. Setiap kelas akan diisi oleh 38 siswa. Dengan demikian, total daya tampung bersih yang tersedia berada di angka 418 kursi.
Pihak sekolah mengoptimalkan fungsi papan pengumuman luar ruang untuk mensosialisasikan struktur kuota ini. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat mengukur secara mandiri potensi geografis mereka sebelum melakukan pendaftaran resmi pada akhir Juni mendatang.
Stigma sekolah favorit yang masih melekat kuat di tengah masyarakat menjadi tantangan terbesar bagi SMPN 1 Cirebon. Upaya pemerintah menghapus pengotakan kualitas sekolah lewat sistem zonasi belum sepenuhnya merubah pola pikir orang tua murid. Animo masuk tetap tinggi.
Penumpukan pendaftar pilihan pertama menjadi fenomena tahunan yang tidak terhindarkan. Sistem komputer mencatat volume berkas masuk selalu melampaui batas maksimum daya tampung kelas yang mampu disediakan oleh pihak panitia sekolah.
Kondisi ini memaksa dilakukannya sistem eliminasi otomatis oleh peladen pusat. Pendaftar yang memiliki jarak rumah terlalu jauh atau nilai kompetensi yang rendah akan tergeser keluar dari sistem pemeringkatan secara real-time.
Lilik Agus Darmawan mengakui bahwa daya tarik sekolahnya masih sangat kuat di mata masyarakat Kota Cirebon. Tekanan volume pendaftaran ini disikapi sekolah dengan kepatuhan mutlak pada filterisasi yang dilakukan oleh sistem aplikasi komputer. “Masyarakat tetap masuk ke SMP 1. Kita juga harus mempertimbangkan dari batasan sistem yang disiapkan. Sementara kuota terbatas,” ucap Lilik.
