RADARCIREBON.ID- Pagi itu, suasana Masjid Al Muhajirin di Kompleks Perumahan Mega Nusa Endah, Kota Cirebon, terasa lebih hangat dari biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, sementara puluhan lansia duduk dengan penuh perhatian. Sesekali terdengar tawa kecil, sesekali anggukan kepala ketika materi kesehatan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di tempat inilah, Minggu (21/6), Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Kota Cirebon merayakan milad ke-24 dengan cara yang sederhana namun bermakna: sebuah Seminar Kesehatan Lansia.
Di depan para peserta, tiga dokter tampil sebagai narasumber. Mereka adalah dr Oom Nurrohmah SpPD, dr Yandi Ariffudin SpJP dan dr Ryan Luqman Hamdani SpOT.
Baca Juga:Hiburan dan Promo Meriahkan Hajatan FIFGROUP Maidea Hariyanindita, Lulusan Terbaik Pesantren Al Hikmah
Materi yang disampaikan tidak hanya soal penyakit dan pencegahan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kualitas hidup di usia senja.
Sekitar 100 lansia mengikuti kegiatan itu dengan antusias. Bagi sebagian mereka, kegiatan seperti ini bukan sekadar seminar, melainkan ruang untuk merasa diperhatikan dan tetap dihargai.
Ketua BSMI Kota Cirebon, dr Oom Nurrohmah SpPD menyebut milad ke-24 ini sebagai momentum untuk kembali meneguhkan komitmen kemanusiaan.
“Perjalanan 24 tahun BSMI adalah bukti kerja para relawan dan tenaga kesehatan yang terus melayani tanpa membedakan latar belakang siapa pun,” ujarnya.
BSMI, kata Oom, lahir dan tumbuh dari semangat kemanusiaan yang tidak pernah membatasi sekat. Sejak berdiri pada 2002, organisasi ini telah hadir di berbagai situasi darurat, dari bencana di tanah air hingga misi kemanusiaan di luar negeri.
Kini, jaringan BSMI telah menjangkau 24 provinsi dan 155 kabupaten/kota di Indonesia. Di balik angka itu, ada relawan yang bergerak cepat saat bencana terjadi, ada tenaga kesehatan yang turun ke lokasi banjir, gempa, hingga erupsi gunung api, dan ada pula program pemulihan yang berjalan setelah keadaan darurat berlalu.
Tak hanya di dalam negeri, langkah BSMI juga menembus batas negara. Dari Gaza di Palestina hingga Turki, dari Bangladesh hingga Nepal, para relawan kemanusiaan Indonesia membawa pesan solidaritas yang sama: membantu tanpa memandang batas geografis dan politik.
