Naskah Kuno Koleksi Museum Pangeran Cakrabuana, Pola Persajakan Kakawin Pada Masa Jawa Kuno dan Pertengahan

Naskah Kuno Koleksi Museum Pangeran Cakrabuana
TELITI NASKAH KUNO: Seminar hasil kajian koleksi Manuskrip Cirebon mengungkap faktwa bahwa naskah Menak dari Cirebon memiliki karakteristik yang berbeda dengan naskah Menak lain yang telah banyak diteliti. Foto: ist
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Sebuah naskah kuno koleksi Museum Pangeran Cakrabuana menjadi sorotan dalam Seminar Hasil Kajian Koleksi Manuskrip Cirebon yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon. Naskah Menak tersebut diduga memiliki usia yang lebih tua dibanding sejumlah naskah Menak yang selama ini menjadi rujukan penelitian dunia.

Temuan itu diungkapkan peneliti manuskrip Dodi Yulianto saat memaparkan hasil kajiannya terhadap naskah kuno yang tersimpan di museum tersebut. Menurutnya, naskah Menak dari Cirebon memiliki karakteristik yang berbeda dengan naskah Menak lain yang telah banyak diteliti.

Dodi menjelaskan, naskah tersebut masih menggunakan pola persajakan kakawin, yakni bentuk sastra yang berkembang pada masa Jawa Kuno dan Jawa Pertengahan. Karakteristik itu dinilai menjadi petunjuk penting dalam menelusuri usia dan asal-usul naskah.

Baca Juga:John Lennon hingga Hery HMI Cirebon, Nama-nama Samaran Kasus Suap Diungkap JaksaMenpora Kecam Pelecehan Seksual terhadap Atlet Menembak

Sebaliknya, naskah Menak yang tersimpan di Bodleian Library, Oxford, Inggris, dan berasal dari tahun 1627 sudah menggunakan pola macapat yang lebih muda. Perbedaan tersebut membuka kemungkinan bahwa naskah Menak dari Cirebon berasal dari periode yang lebih awal.

“Ini menunjukkan kemungkinan bahwa naskah yang ada di Cirebon memiliki posisi penting dalam perkembangan sastra pesisir Nusantara dan layak diteliti lebih lanjut,” ujar Dodi kepada Radar Cirebon.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir. Diperlukan penelitian lanjutan, baik dari aspek filologi, paleografi, maupun kajian sejarah untuk memastikan usia naskah tersebut. Menurut Dodi, jika dugaan itu terbukti, maka naskah Menak koleksi Museum Pangeran Cakrabuana dapat menjadi salah satu manuskrip penting dalam sejarah perkembangan sastra Islam di Nusantara.

Ia menilai keberadaan naskah kuno tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Cirebon memiliki peran besar sebagai pusat pertemuan budaya, agama, dan tradisi literasi pada masa lalu.

Selain mengungkap potensi naskah Menak, kajian yang dilakukan juga menegaskan masih banyak manuskrip kuno di Cirebon yang belum terdokumentasi secara menyeluruh. Sebagian besar naskah diperkirakan masih tersimpan di lingkungan keraton, pesantren, maupun masyarakat.

Sementara peneliti budaya dari University of Connecticut, Amerika Serikat, Matthew Cohen, menilai penelitian terhadap manuskrip lokal sangat penting untuk membuka informasi baru mengenai sejarah daerah yang belum banyak diketahui.

0 Komentar