RADARCIREBON.ID – Seorang pengguna media sosial Threads yang mengaku sebagai peserta Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih, membagikan pengalamannya selama mengikuti pelatihan. Unggahan tersebut muncul setelah mencuat kabar meninggalnya lima peserta dalam program tersebut.
Pemilik akun Threads bernama @chameleon.9670486, mengaku sempat mengikuti pelatihan sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Dalam unggahannya, ia terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga lima peserta yang meninggal dunia saat mengikuti latsarmil.
“Pertama-tama saya ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya lima peserta KDKMP dan KNMP saat menjalankan latsarmil,” tulisnya di Threads, Minggu (28/6).
Baca Juga:Didominasi Warga Korea Selatan dan China, Ratusan WNA Tinggal di Kota Cirebon Masyarakat Diminta Berikan Data Akurat, BPS Kota Cirebon Mulai Sensus Ekonomi 2026
Ia menegaskan, seluruh cerita yang dibagikannya merupakan pengalaman pribadi selama mengikuti pelatihan. “Saya salah satu peserta yang akhirnya memutuskan mundur karena masalah kesehatan. Saya ingin sedikit menceritakan pengalaman selama latsarmil dan apa yang sebenarnya terjadi di lokasi,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi di setiap lokasi pelatihan kemungkinan tidak sepenuhnya sama. Meski demikian, ia meyakini pelaksanaan program seharusnya mengacu pada standar yang seragam. “Mungkin ada perbedaan di tiap lokasi, tetapi seharusnya kurang lebih sama karena Kepala BPSDM Kemenhan pernah menyampaikan bahwa seluruh program pendidikan berjalan sesuai aturan baku,” tuturnya.
Ia mengaku telah menyampaikan secara terbuka riwayat penyakit yang dimilikinya ketika menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dinyatakan lolos sebagai peserta. Latar belakangnya yang pernah menempuh pendidikan bergaya ketarunaan, membuatnya semula yakin mampu mengikuti program tersebut.
“Pas tes kesehatan, saya sudah jujur soal riwayat penyakit. Kebetulan saya juga kuliah di kampus dengan sistem ketarunaan,” katanya.
Saat dinyatakan lolos seleksi, ia menganggap kondisi kesehatannya dinilai memenuhi syarat dan memperkirakan pelatihan tidak akan terlalu berat. “Waktu dinyatakan lolos, saya berpikir berarti kondisi kesehatan saya dianggap baik atau pendidikannya tidak akan seketat itu. Karena ini rezeki, akhirnya saya memutuskan ikut,” ujarnya.
Namun, menurut pengakuannya, kenyataan di lapangan berbeda dari ekspektasi. Ia menyebut jadwal kegiatan berlangsung sangat padat, sementara waktu istirahat sangat terbatas. Ia mengaku hanya memiliki waktu tidur sekitar tiga hingga empat jam setiap hari. Selain itu, peserta juga harus mengikuti latihan baris-berbaris (PBB) hingga sekitar enam jam dalam sehari.
