Hendra menambahkan, salah satu alternatif yang tengah didorong adalah penerapan biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik di lingkungan permukiman. Konsep tersebut dinilai relatif murah dan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. “Biopori bisa menjadi salah satu solusi sederhana. Sampah organik dimasukkan ke lubang biopori sehingga bisa mengurangi volume sampah sekaligus menjadi kompos,” katanya.
Berbagai masukan dari para camat, sambung Hendra, akan dihimpun dan dibahas lebih lanjut oleh tim kabupaten yang dikoordinasikan Dinas Lingkungan Hidup. Langkah tersebut diharapkan dapat menghasilkan kebijakan penanganan sampah yang lebih efektif meski dengan keterbatasan anggaran maupun sarana prasarana.
Di sisi lain, Pemkab Cirebon juga masih membuka peluang kerja sama dengan investor yang bergerak di bidang pengolahan sampah. Hingga saat ini telah ada sejumlah investor yang menyampaikan minat, namun belum ada yang merealisasikan investasinya.
Baca Juga:Inggris vs RD Kongo Piala Dunia 2026, Hati-hati! Kejutan Belum UsaiVonis 10 Tahun, Hakim Terbelah, Nadiem: Mereka Tahu Saya Tak Bersalah
Selain itu, pemerintah daerah juga tengah menjajaki pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik bersama pemerintah pusat. “Mudah-mudahan berbagai upaya ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menyelesaikan persoalan sampah di Kabupaten Cirebon,” pungkasnya. (*)
