RADARCIREBON.ID – Menghadapi ancaman kekeringan akibat kemarau panjang, Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BP Mektan) Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon terus memperkuat dukungan pompanisasi bagi petani di Kabupaten Cirebon.
Sejak tahun 2025 hingga saat ini, sebanyak 60 unit pompa air berukuran 3 inci telah disalurkan dan dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air lahan pertanian di sejumlah wilayah.
Kepala Satpel Plumbon BP Mektan Provinsi Jawa Barat, Tatang Supriyatna mengatakan, puluhan pompa tersebut tersebar di sejumlah kecamatan yang memiliki kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Baca Juga:Rp4,6 Miliar untuk Pembebasan Lahan, Pembangunan TPST Gempol oleh InvestorBidik Teknologi PSEL untuk Olah Seribu Ton Sampah
“Untuk Cirebon dari 2025 sampai hari ini sudah 60 unit pompa 3 inci yang tersebar di wilayah Kecamatan Plumbon, Plered, Weru, Kedawung, Astanajapura, Beber, Sedong, dan Palimanan,” ujar Tatang, Selasa (11/8).
Menurutnya, pompanisasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu petani menghadapi kondisi kemarau, terutama di wilayah yang sumber airnya berada cukup jauh dari lahan pertanian.
Keberadaan pompa memungkinkan sumber air seperti sungai maupun sumur pantek dimanfaatkan untuk mengairi lahan yang membutuhkan pasokan air.
Lebih lanjut, dikatakan Tatang, pemanfaatan pompa juga disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.
Dalam kondisi tertentu, petani membutuhkan lebih dari satu pompa untuk mengalirkan air dari sumber menuju lahan.
“Kadang-kadang kita menggunakan dua sampai tiga pompa karena lahannya jauh dari sumber air,” katanya.
Ia mencontohkan, kondisi di sejumlah wilayah yang posisi sumber airnya lebih rendah dibandingkan lahan sawah.
Baca Juga:Penuh Lubang, Aspal Mengelupas, Jalan dr Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon RusakJalan Ambles Makin Parah, Pemkab Cirebon Didesak Segera Lakukan Perbaikan
Kondisi tersebut membuat petani membutuhkan pompa dengan kapasitas lebih besar maupun sistem pompanisasi secara bertahap.
Satpel Plumbon juga terus melakukan pemantauan terhadap pemanfaatan bantuan pompa yang telah disalurkan.
Apabila terdapat pompa yang sedang tidak digunakan oleh satu kelompok tani, alat tersebut dapat dialihkan sementara ke wilayah lain yang membutuhkan.
“Kalau ada pompa yang tidak sedang digunakan, sementara ada petani lain yang membutuhkan, kami geser ke lokasi yang sedang mengalami kekeringan,” jelasnya.
Tatang menegaskan, pompanisasi menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh sumber air alternatif sehingga lahan pertanian tetap dapat dikelola.
