“Hal demikian itu setiap tahun sesuatu yang sudah biasa. Karena itu berlangsung setiap tahun dan di mana-mana juga sama. Kita juga punya anak yang sekolah di mana-mana kan sama, harus beli seragam, keperluan anak-anak. Di manapun sama, bukan hanya di SMPN 6 Cirebon. SMP lain juga seperti itu,” ujar Yudi kepada Radar Cirebon.
Diketahui, selain memimpin SMPN 6, Yudi saat ini juga mengemban tugas sebagai Plt Kepala SMP Negeri 9 Kota Cirebon. Ia merinci, pembiayaan tersebut sengaja dialokasikan untuk pakaian seragam yang menjadi identitas kekhasan sekolah, seperti batik dan baju olahraga.
Komponen-komponen itu secara regulasi memang tidak bisa diakomodasi atau didanai oleh anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Anggaran itu juga sudah mencakup paket aktivitas siswa baru seperti alih pangkalan pramuka, pas foto, serta perlengkapan penunjang lain yang hanya ditarik sekali selama tahun ajaran baru bergulir.
Baca Juga:Pendalaman Polisi pada Peristiwa Laka Maut di Jalan Turun GronggongPemkot-DPRD Harus Beri Contoh Efisiensi, Tunjangan hingga Kegiatan Seremonial Wajib Dievaluasi
Mengenai mekanisme penentuan tarif, Yudi membantah keras jika sekolah disebut mengambil keputusan sepihak yang otoriter. Dia mengklaim seluruh proses merupakan hasil diskusi matang dan kesepakatan bersama dalam rapat pleno antara komite sekolah dan orang tua murid.
“Sebelum memutuskan nominal tersebut, kita undang orang tua. Ketika komite dan orang tua berdiskusi, saya sebagai kepala sekolah tak ikut di dalamnya. Kemudian, uang itu tidak mutlak harus dibayar penuh hari itu juga. Skema pembayarannya sangat fleksibel, disesuaikan dengan kemampuan finansial orang tua,” urainya.
Terkait kehadiran petugas Bank BJB yang masuk ke area kelas, Yudi meluruskan bahwa kebijakan tersebut murni merupakan inisiatif mandirinya selaku kepala sekolah demi mendidik aspek literasi keuangan siswa sejak dini agar gemar menabung. Dia memastikan tidak ada instruksi khusus, titipan, maupun intervensi dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon dalam penunjukan bank tersebut.
Bank BJB dipilih karena dinilai memiliki fasilitas paling akomodatif, yakni tersedianya layanan mobil keliling yang rutin membuka konter di halaman sekolah setiap hari Kamis. Program rekening Simpanan Pelajar ini juga dipastikan bebas dari biaya administrasi bulanan dan dibuka secara menyeluruh bagi siswa kelas 7, 8, hingga kelas 9.
