Andalkan Pompanisasi Hadapi Kemarau Ekstrem

menanam padi
MUSIM TANAM: Petani di Palimanan tengah menanam padi di tengah ancaman fenomena El Nino, kemarin. FOTO: KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Program pompanisasi menjadi salah satu solusi utama bagi petani di Kabupaten Cirebon, untuk tetap bercocok tanam di tengah ancaman fenomena El Nino atau musim kemarau ekstrem.

Dengan dukungan pompa air, sejumlah lahan yang sebelumnya hanya mampu ditanami dua kali dalam setahun kini dapat ditingkatkan menjadi tiga kali masa tanam.

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Palimanan, Eeb menjelaskan, saat ini wilayah Palimanan telah memasuki musim tanam (MT) II dan sebagian bersiap memasuki MT III yang bertepatan dengan musim kemarau.

Baca Juga:Berpotensi Temuan BPK, Dewas PDAM dari Unsur Pemerintah yang Pensiun Diminta Segera DiberhentikanTMMD ke-129 Cirebon, Fokus Bangun Jalan hingga Renovasi Rutilahu

“Di Palimanan ada beberapa desa yang biasanya hanya sampai IP200. Namun di Desa Beberan, melalui program PMAAS, indeks pertanamannya bisa meningkat menjadi IP300 karena kebutuhan air dapat dipenuhi dengan pompanisasi,” ujarnya.

Ia mengatakan, pompa air yang digunakan berasal dari bantuan pemerintah, baik dari Kementerian Pertanian maupun Dinas Pertanian.

Selain itu, petani juga memanfaatkan sistem pinjam pakai alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mengatasi keterbatasan jumlah pompa.

Menurutnya, fasilitas tersebut dioptimalkan agar petani tetap dapat melakukan penanaman meski menghadapi musim kemarau panjang.

“Selama masih ada sumber air dan pompa, kegiatan tanam tetap bisa berjalan meskipun kondisi sedang El Nino,” katanya.

Ia menambahkan, petani yang membutuhkan bantuan pompa dapat mengajukan usulan melalui kelompok tani.

Selanjutnya, kelompok tani berkoordinasi dengan penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), yang kemudian meneruskan usulan kepada dinas terkait maupun balai mekanisasi pertanian.

Baca Juga:Segera Cabut Moratorium Investasi, Pemutakhiran Lahan Baku Sawah Tinggal 0,03 PersenMomen Haul Mbah Kuwu Sangkan, Jigus Minta Kuwu Semangat Bangun Desa

Sumber air untuk pompanisasi, lanjutnya, dapat berasal dari sungai, sumur pantek maupun sumur bor.

Namun, tidak semua wilayah telah memiliki sumber air yang memadai sehingga masih menjadi kendala dalam penerapan pompanisasi.

“Khusus di Desa Beberan yang sedang menjalankan program PMAAS, sumber air dari sumur pantek masih tersedia sehingga mendukung pelaksanaan program tersebut,” pungkasnya. (awr)

0 Komentar