RADARCIREBON.ID – Jangankan peringkat ketiga, Piala Dunia tak pernah memberi ruang kebanggaan untuk runner-up. Hanya juara yang bisa angkat piala. Jadi, drama 10 gol di final kecil yang menempatkan Inggris dengan predikat ketiga, Minggu (19/7) dini hari WIB, bagaikan cemilan basa-basi yang dibungkus senyum kecut bagi pelatih Thomas Tuchel ketika mendarat di London nanti.
Sangat menyakitkan memang. Skor meyakinkan 6-4 atas Prancis di Piala Dunia, namun Inggris pulang tanpa membawa apa-apa. Kecuali dongeng “kebodohan” Thomas Tuchel di semifinal saat melawan musuh besarnya, Argentina. Inggris bagai gladiator yang bertarung dengan modal ketakutan akan kalah, bermain tak ubahnya tim amatiran yang disuap tidak boleh menang.
Ini mengingatkan lagi cibiran legenda Jerman mendiang Franz Beckenbauer. Pemain dan pelatih yang sukses mengangkat Piala Dunia FIFA tahun 1974 dan 1990 itu, membuat analogi yang melawan arus. Bahwa, kompetisi liga profesional yang rapi dan glamor, tidak menjadi jaminan apapun untuk kesuksesan tim nasional di arena berbendera negara. Beckenbauer merujuk ke perbandingan Bundesliga Jerman dengan Premier League Inggris.
Baca Juga:Kemenhaj Siapkan Payung Hukum Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan UmrahTuper DPRD Rp30 Jutaan, Sekwan Sebut Sudah Efisiensi, Termasuk Tunjangan Transportasi
Sekian lamanya, 60 tahun, kiprah tim nasional Inggris selalu menuliskan dongeng heroik untuk pengantar tidur sebagai penyemangat bagi anak-anak di akademi sepak bola yang ribuan jumlahnya di sana. Mereka selalu dipersiapkan dengan sempurna memasuki klub dan bermain di liga profesional.
Tidak ada yang salah dengan sistem pembinaan dan jenjang prestasi di Inggris sebagai tanah legenda sepak bola. Pemain dan pelatih bergonta-ganti mengikuti tren dan melawan arus, tetap saja tak menbuahkan piala mayor, sekadar Euro atau bahkan Piala Dunia.
Bahkan, Inggris sudah tiga kali menggadaikan harga dirinya dengan meminta jasa orang asing dari Swedia (Svan Goran Eriksson), Italia (Fabio Capello) dan Jerman (Thomas Tuchel) untuk “mengajari ikan paus berenang”.
Padahal, sejak tahun 1860, di Inggris, sudah ada pertandingan resmi di dalam stadion (lapangan dengan podium penonton). Di kala itu, lapangan sepak bola saja masih jarang ditemui di hamparan Eropa, apalagi belahan Amerika dan Asia Afrika.
Entah apa yang salah. Tapi Jerman, era pelatih Erick Ribbech, yang timnasnya terpuruk ke dasar saat perhelatan Euro tahun 2000, langsung bisa revolusi tanpa harus menggaji pelatih asing. Bahkan hingga saat ini, dan mungkin jauh ke depan nanti, Jerman tak akan pernah dilatih oleh orang asing. Mungkin karena dianggap menggaji pelatih asing cuma buang-buang uang rakyat.
