Ia mengungkapkan, kebutuhan gula di Jawa Barat mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun. Namun, produksi yang tersedia baru sekitar 100 ribu ton sehingga masih terjadi defisit sekitar 300 ribu ton yang harus dipenuhi dari daerah lain maupun melalui peningkatan produksi lokal.
Menurut Herman, kondisi tersebut menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi petani tebu.
“Selama kebutuhan gula masih jauh lebih besar dibandingkan produksinya, peluang pasar masih terbuka lebar. Ini menjadi kesempatan bagi petani untuk meningkatkan luas tanam sekaligus produktivitas,” ujarnya.
Baca Juga:MPLS, Ratusan Siswa UPTD SDN 2 Sukaurip Dikenalkan Profesi Damkar dan Teknis Penanggulangan KebakaranEkspo Produk Pertanian hingga Sarasehan Tani Bersama Bupati Warnai Peringatan HKP 2026 di Indramayu
Berdasarkan data Pemprov Jawa Barat, panen raya kali ini melibatkan 113 kelompok tani dengan sekitar 2.018 petani. Petani yang mengelola lahan seluas dua hingga tiga hektare diperkirakan mampu memperoleh pendapatan Rp70 juta hingga Rp80 juta per tahun atau rata-rata sekitar Rp6 juta per bulan.
Pemprov Jawa Barat juga mengapresiasi pendampingan yang dilakukan TNI Angkatan Udara kepada petani melalui berbagai program pembinaan. Pendampingan tersebut dinilai turut meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Seluruh hasil panen tebu dari kawasan Jatitujuh akan dipasok ke PT Rajawali II Unit PG Jatitujuh untuk diolah menjadi gula kristal guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Selain Majalengka, sentra perkebunan tebu di Jawa Barat juga terdapat di Kabupaten Indramayu, Subang, dan sejumlah daerah lainnya. Namun, Majalengka masih menjadi daerah dengan areal tebu terluas berkat topografi yang relatif datar, sistem irigasi yang memadai, serta karakteristik tanah yang cocok untuk budidaya tebu.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, pelaku industri, dan petani terus diperkuat guna meningkatkan produktivitas tebu secara berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus mengurangi defisit kebutuhan gula di Jawa Barat. (bae)
