Hadapi Kemarau Panjang, Optimalkan Alsintan

sawah yang tandus
OLAH LAHAN: Petani Palimanan mengolah sawah yang tandus dengan traktor roda empat, kemarin. Penggunaan alsintan menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan kemarau panjang di Kabupaten Cirebon. FOTO: KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BP Mektan) Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon, Kabupaten Cirebon, mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Optimalisasi itu dilakukan untuk membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino.

Salah satu alsintan yang dioptimalkan adalah traktor roda empat (TR4). Alat tersebut dinilai penting untuk membantu petani mempercepat pengolahan lahan, terutama pada lahan yang kondisinya keras dan sulit diolah menggunakan traktor roda dua.

Baca Juga:Honda Monkey Tampil dengan Pilihan Warna BaruDosen UT Dorong Guru SD di Cirebon Manfaatkan Mangrove sebagai Sumber Belajar

Kepala Satpel Plumbon BP Mektan Provinsi Jawa Barat, Tatang Supriyatna mengatakan, penggunaan TR4 menjadi bagian dari upaya mendukung petani agar tetap dapat mengelola lahan secara efisien di tengah tantangan perubahan kondisi iklim.

Kondisi lahan yang keras, menurutnya, dapat terjadi setelah penggunaan combine harvester dalam proses panen.

Bobot alat yang cukup berat dapat membuat tanah menjadi lebih padat sehingga membutuhkan alat dengan kemampuan lebih besar untuk mengolahnya kembali.

Karena itu, pemanfaatan TR4 menjadi penting untuk mempercepat proses pengolahan lahan dan mengurangi beban tenaga serta biaya yang harus dikeluarkan petani.

Selain pengolahan lahan, lanjut Tatang, persoalan ketersediaan air menjadi tantangan yang lebih mendesak bagi petani selama musim kemarau panjang. Untuk itu, pompanisasi menjadi salah satu upaya utama yang dilakukan BP Mektan.

“Yang paling urgen saat ini adalah pompanisasi. Baik pompa kecil maupun pompa besar, karena di beberapa wilayah sumber airnya cukup jauh dari lahan pertanian,” katanya.

Diungkapkan Tatang, BP Mektan telah menyalurkan sekitar 75 unit pompa untuk Kabupaten Cirebon.

Baca Juga:Ajak Kuwu Perkuat Sinergi Bangun Desa, Haul ke-526, Momentum untuk Teladani Semangat Mbah Kuwu Sangkan Buang Sampah Sembarangan, Warga Didenda Rp500 Ribu

Pemanfaatan alat tersebut terus dimonitor agar dapat membantu petani menghadapi dampak kekeringan.

Jika terdapat pompa yang sedang tidak digunakan di satu kelompok tani, peralatan tersebut dapat dialihkan sementara ke kelompok tani lain yang membutuhkan.

Kebutuhan pompa di lapangan, lanjut Tatang, sangat bergantung pada kondisi geografis lahan dan sumber air.

Di sejumlah wilayah, petani bahkan membutuhkan beberapa pompa sekaligus untuk mengalirkan air dari sumber menuju lahan pertanian.

Ia mencontohkan kondisi di wilayah Jamblang, dimana aliran sungai berada lebih rendah dari lahan sawah.

0 Komentar