RADARCIREBON.ID– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Blok Cirendang, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, berhasil dikendalikan oleh petugas gabungan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Peristiwa ini tercatat sebagai kebakaran hutan pertama yang terjadi di kawasan Gunung Ciremai sepanjang tahun 2026.
Kepulan asap pertama kali diketahui empat petugas Balai TNGC, yang tengah melakukan patroli di Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Batu Luhur. Laporan tersebut diperkuat informasi dari masyarakat dan perangkat Desa Padabeunghar yang masuk melalui call center TNGC.
Baca Juga:Banggar Soroti Rapuhnya Kemandirian Fiskal Kuningan, Desak Bupati Benahi Tata Kelola PAD dan APBDSikapi Isu LGBT, PPP Kuningan Ajak Masyarakat Perkuat Moral Generasi Muda
Tim patroli yang terdiri atas Iyon K, Agus Sumarna, Andis NH, dan Dede Rosade kemudian memastikan titik api berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di Blok Cirendang. Informasi tersebut segera diteruskan ke Posko Dalkarhut SPTN Wilayah I Kuningan di Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan.
Petugas gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman, sementara personel lainnya mengoordinasikan penanganan bersama berbagai unsur internal maupun eksternal.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar mengatakan, proses pemadaman menghadapi kendala karena api bergerak sangat cepat. Ini akibat kondisi vegetasi yang didominasi semak belukar kering serta diperparah tiupan angin yang cukup kencang.
“Api cepat sekali menjalar karena mayoritas tutupan lahan berupa semak belukar kering dan tiupan angin yang kencang,” ujarnya, Rabu (22/7).
Kebakaran juga mengancam area penghijauan hasil program pembuatan sekat bakar hijau. Tercatat sekitar 2.750 tanaman dari berbagai jenis seperti bayur, beringin, kelor, asam, buni, puspa, bungur, pinang, nangka, petai, salam, hingga manglid berada di kawasan tersebut. Tanaman itu merupakan hasil penanaman tahun 2024 dan pemeliharaan tahun 2025.
Sambil menunggu peralatan khusus seperti jet shooter dan mesin pompa air dari Posko Dalkarhut Singkup tiba di lokasi, petugas melakukan pemadaman awal menggunakan gepyok alami berupa ranting berdaun basah untuk menahan laju api.
Setelah hampir lima jam berjibaku, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan. Tim kemudian melanjutkan proses mop up dengan memadamkan seluruh bara api yang masih tersisa, agar tidak kembali menyala.
