RADARCIREBON.ID- JOMBANG- Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf mengajak jamaah haji untuk menjaga kemabruran sebagai bekal membangun keluarga dan masyarakat. Menurutnya, ibadah haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi awal dari tanggung jawab moral yang harus terus dijaga setelah kembali ke tanah air.
Pesan tersebut disampaikan Menhaj saat menghadiri Doa Syukur dan Pengajian Manasik Jamaah Haji 1447 H serta Jamaah Haji 1448 H di Kabupaten Jombang, Rabu kemarin (26/8/2026). Kegiatan ini mengangkat tema Menjaga Kemabruran, Menyiapkan Istitha’ah, dan Mewujudkan Tri Sukses Haji.
“Haji selesai, tetapi kemabruran tidak boleh selesai. Ukuran haji mabrur bukan hanya apa yang dilakukan di Tanah Suci, melainkan bagaimana kita hidup setelah kembali. Akhlak harus semakin baik, ibadah semakin kuat, dan kepedulian kepada sesama semakin nyata,” ujar Menhaj.
Baca Juga:RUU Perampasan Aset Jadi Ujian DPR, Dasco Cs Berani Mundur JikaTak Rampung pada 15 DesemberEvaluasi Haji 2026, Menhaj: Jangan Mainkan Data Jamaah
Menhaj mengatakan, jamaah haji memiliki peran penting sebagai penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Pengalaman selama menjalankan ibadah haji, menurutnya, perlu dibagikan kepada jamaah agar mereka memiliki gambaran yang utuh tentang perjalanan ibadah, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga kembali ke Indonesia.
“Jamaah yang sudah berhaji adalah sumber pembelajaran. Ceritakan pengalaman yang sebenarnya, apa yang harus disiapkan, bagaimana menjaga kesehatan, disiplin, dan kekhusyukan selama berada di Tanah Suci,” katanya.
Menhaj juga mengingatkan jamaah haji 1448 H agar memulai persiapan sejak sekarang, tidak menunggu mendekati keberangkatan. Persiapan tersebut mencakup kelengkapan administrasi, mengikuti manasik, memperkuat kesiapan mental, hingga menjaga kondisi fisik.
Menurutnya, istitha’ah kesehatan merupakan salah satu kunci penting dalam penyelenggaraan haji. Karena itu, jemaah diminta memanfaatkan waktu yang masih panjang untuk memperbaiki kondisi kesehatan melalui pemeriksaan berkala, mengendalikan penyakit penyerta, menjaga pola makan, beristirahat cukup, dan rutin berolahraga.
“Pemeriksaan kesehatan bukan penghambat keberangkatan. Justru itulah ikhtiar kita agar jamaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan kembali ke tanah air dalam kondisi terbaik,” tegasnya.
Selain kesiapan kesehatan, Menhaj menekankan pentingnya bimbingan manasik yang membentuk jemaah mandiri. Manasik, kata dia, tidak cukup berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga harus membekali jemaah dengan kemampuan menghadapi situasi nyata di lapangan, termasuk memahami pola pergerakan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, layanan transportasi, hingga mekanisme pelayanan jamaah.
