RADARCIREBON.ID – Berjualan nasi merupakan pekerjaan yang umum dilakukan masyarakat di berbagai daerah. Namun, hal itu justru menjadi salah satu pantangan bagi warga Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.
Pantangan tersebut sudah berlangsung secara turun-temurun dan hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat Desa Slangit. Warga diperbolehkan menjual berbagai jenis makanan, tetapi ada sejumlah makanan atau aktivitas tertentu yang tidak boleh dilakukan karena dianggap bertentangan dengan adat setempat.
Kuwu Desa Slangit, Apendi, mengatakan larangan berjualan nasi merupakan salah satu adat yang masih dipertahankan hingga sekarang. Menurutnya, aturan tersebut bukan dibuat oleh pemerintah desa, melainkan merupakan warisan dari leluhur. “Di sini adat istiadatnya masih kental. Saya tinggal meneruskan saja adat istiadat desa yang berasal dari leluhur,” kata Apendi.
Baca Juga:Nusron: Kami Hormati Apa yang Dilakukan KPKKunjungan Pasien Anak Meningkat, Termasuk di RS Pasar Minggu, Sejumlah Kasus Perlu Pemeriksaan Lanjutan
Menurut Apendi, masyarakat yang tetap memaksakan diri berjualan nasi setelah mengetahui adanya pantangan tersebut dipercaya akan mengalami dampak tertentu. Cerita mengenai akibat pelanggaran pantangan itu pun masih berkembang di tengah masyarakat.
Ia menceritakan, pernah ada warga yang memaksakan diri berjualan nasi meski mengetahui adanya larangan adat. Warga itu kemudian disebut mengalami kejadian buruk hingga akhirnya meninggal dunia. “Kalau misalkan yang memaksakan jualan itu pasti ada dampak,” ujarnya.
Apendi mengakui bahwa tidak semua orang mungkin mempercayai cerita maupun konsekuensi dari pantangan tersebut. Namun, berbagai kejadian yang dipercaya masyarakat membuat adat tersebut tetap dihormati. “Yang namanya adat kental itu, kita tidak percaya tapi nyata. Ternyata terjadi,” kata Apendi kepada Radar Cirebon.
Pantangan tidak hanya berlaku untuk berjualan nasi. Warga Desa Slangit juga mengenal larangan lain yang berkaitan dengan tanaman tertentu, yakni menanam cabai rawit, ketan hitam, dan labu putih. Apendi menyebut pernah ada warga yang menanam cabai kecil atau cabai rawit, kemudian mengalami pembengkakan pada bagian tubuh.
Warga tersebut telah berobat, tetapi disebut tidak kunjung menemukan penyebab maupun pengobatan yang dianggap berhasil. “Misalkan nanam cabai kecil, pernah ada yang sampai bengkak. Berobat-berobat tidak ketemu, tidak ada obatnya,” ujarnya.
