RADARCIREBON.ID – Penerapan Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) di Kabupaten Cirebon terus diperluas.
Hingga awal September 2026, sekitar 131 hektare lahan sawah telah menerapkan sistem pertanian modern tersebut.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon menargetkan penerapan PMAAS dapat diperluas hingga 8.000 hektare di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
Baca Juga:Pemerintah Kabupaten Cirebon Awasi Distribusi, Cegah Penimbunan Bahan PokokPorprov Jabar 2026, Kontingen Cirebon Kirim 391 Atlet dari 38 Cabor, Target Masuk 15 Besar
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Dr Deni Nurcahya ST MSi mengatakan, penerapan PMAAS saat ini masih dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah.
Program tersebut mulai berjalan sejak Juli dan akan terus dikembangkan hingga Oktober.
“Baru 131 hektare. Kita rencanakan di Cirebon ada 8.000 hektare,” ujar Deni saat pelaksanaan demplot PMAAS di Desa Cengkuang, Kecamatan Palimanan.
Dijelaskannya, penerapan PMAAS tidak dapat dilakukan di sembarang lahan. Salah satu pertimbangan utama adalah ketersediaan air karena sistem tersebut membutuhkan lahan sawah dengan dukungan irigasi yang memadai.
Karena itu, lahan yang dipilih diprioritaskan pada sawah yang memiliki sumber air dan jaringan irigasi sehingga budidaya dapat berjalan optimal.
Lebih lanjut, dijelaskan Deni, penerapan PMAAS juga membawa perubahan dari pola budi daya padi konvensional.
Salah satunya melalui sistem tanam benih langsung atau tabela, yakni benih langsung ditanam di lahan tanpa melalui proses persemaian dan pindah tanam.
Baca Juga:Polresta Cirebon Terjunkan Water Canon Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak KekeringanKomisi I DPRD Cirebon Tegaskan Semua SKPD Berbasis Risiko Wajib Ikut Bimtek
“Dalam sistem tersebut, kebutuhan benih mencapai sekitar 70 kilogram per hektare. Jumlah itu lebih besar dibandingkan pola konvensional yang umumnya membutuhkan sekitar 25-30 kilogram benih per hektare,” ungkapnya.
Untuk Kebutuhan benih tersebut, kata Deni, mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian. “Untuk setiap satu hektare lahan PMAAS, pemerintah menyediakan sekitar 70 kilogram benih,” tandasnya.
Sementara dari sisi pemupukan, kebutuhan input juga lebih tinggi. Sistem PMAAS membutuhkan sekitar 7 kuintal Urea dan sekitar 4 kuintal pupuk Phonska per hektare.
Meski membutuhkan input lebih besar, sistem tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi hingga 10 ton per hektare.
Adapun rata-rata produksi padi di Kabupaten Cirebon saat ini masih berada pada kisaran 5-6 ton per hektare.
Direktur Wilayah Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat Kementerian Pertanian, Dr Detia Tri Yunandar SP MSi mengatakan, perluasan PMAAS merupakan bagian dari program nasional untuk mendorong modernisasi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
