RADARCIREBON.ID – Bagi sebagian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memiliki produk yang laris sering kali sudah dianggap sebagai tanda bahwa bisnis berjalan baik. Namun, ketika usaha mulai membesar, persoalannya tidak lagi sekadar bagaimana menjual produk.
Ada persoalan pencatatan keuangan, legalitas, pemasaran, akses pembiayaan, hingga bagaimana menemukan pasar baru. Tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya tetap bertahan pada pola bisnis harian karena belum memiliki fondasi manajemen yang kuat.
Persoalan itulah yang coba dijawab melalui Regional Offline AKSARA (Akselerasi Wirausaha) Jawa Barat 2026 di Kota Cirebon.
Baca Juga:38 Pohon Tumbang Selama Kemarau – Angin Kencang di Kota CirebonAdira Cabang Cirebon Wahidin Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026
Sekitar 50 pelaku usaha dari berbagai sektor berkumpul dalam kegiatan tersebut. Mulai dari makanan dan minuman, ekonomi kreatif, fesyen, bisnis digital, kesehatan, pendidikan, akomodasi, industri hingga pertanian.
Mereka datang dengan produk dan pengalaman masing-masing. Namun, satu hal yang mempertemukan mereka adalah kebutuhan untuk membawa usaha dari sekadar bertahan menjadi bisnis yang mampu berkembang.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan tantangan UMKM untuk naik kelas tidak selalu terletak pada modal.
Menurutnya, banyak pelaku usaha telah memiliki produk berkualitas. Hanya saja, kualitas tersebut belum selalu dibarengi tata kelola bisnis yang memadai.
“Persoalan UMKM untuk naik kelas tidak selalu berakar pada minimnya modal. Banyak pelaku usaha kita yang produknya berkualitas, tetapi belum ditopang oleh sistem bisnis yang kokoh,” ujar Edo.
Pola pengelolaan usaha yang masih sederhana menjadi salah satu persoalan. Keuangan pribadi dan usaha masih bercampur. Pencatatan transaksi belum tertata. Rencana pengembangan bisnis pun belum selalu dibuat berdasarkan perhitungan yang jelas.
Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen dan persaingan pasar menuntut pelaku usaha bergerak lebih cepat. Produk yang bagus tidak otomatis menemukan pasar jika pemilik usaha tidak memahami siapa konsumennya, bagaimana menjangkau mereka, dan bagaimana membangun kerja sama dengan mitra.
Baca Juga:Becak Listrik Bikin Pebecak Lansia di Cirebon Tersenyum, Tak Lagi Harus Mengayuh, Penghasilan Naik Rp80 RibuSD Islam Al Azhar 3 Cirebon Borong Prestasi hingga Tingkat Internasional
Karena itu, bagi Edo, pengembangan UMKM tidak boleh berhenti pada pelatihan keterampilan.
Pelaku usaha harus didorong memahami bisnis secara lebih utuh, mulai dari legalitas, pengelolaan keuangan, akses pembiayaan hingga kemampuan membangun jejaring.
