RADARCIREBON.ID -Petani di Desa Cengkuang, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, melihat peluang tambahan pendapatan melalui musim tanam ketiga (MT3).
Penerapan tanam benih langsung (tabela) dalam program PMAAS memungkinkan lahan kembali dimanfaatkan setelah sebelumnya hanya digarap hingga musim tanam kedua (MT2).
Petani Desa Cengkuang, Yoyon mengatakan, sebelumnya pola tanam di wilayahnya umumnya hanya sampai MT2. Setelah itu, sebagian lahan dimanfaatkan untuk tanaman palawija seperti kacang hijau.
Baca Juga:Sampah Rumah Tangga Disulap Jadi Sabun, Warga GSP Karyamulya Cirebon Ikuti Pelatihan Eco EnzymeLunas PBB Dapat Hadiah Umrah, Bapenda Cirebon Siapkan 44 Kuota untuk Desa
Dengan penerapan tabela, petani memiliki kesempatan kembali menanam padi pada MT3 sehingga produktivitas lahan dalam setahun bisa meningkat.
“Dengan adanya tabela, kita bisa MT3, berarti ada tambahan pemasukan,” kata Yoyon.
Peluang tersebut didukung hasil panen MT2 yang masih cukup baik. Yoyon menyebut produktivitas padi dengan pola tanam pindah di Cengkuang mencapai sekitar 5-6 ton per hektare.
Harga gabah di tingkat petani juga masih cukup tinggi.
Saat ini gabah Cengkuang berada di kisaran Rp8.200 per kilogram, naik dibandingkan sebelumnya sekitar Rp8.000 per kilogram (kg). “Sekarang Rp8.200. Kemarin kita jual Rp8.000,” ujarnya.
Selain hasil panen yang cukup tinggi, padi Cengkuang memiliki rendemen yang dinilai baik.
Yoyon menyebut rendemen beras dari padi yang digiling mencapai sekitar 67-70 persen.
“Rendemennya 67 sampai 70 persen. Berarti dapat berasnya lebih tinggi,” ungkapnya.
Baca Juga:Terima Audiensi, Kajari Buka Ruang Pengawasan Publik Terima Audiensi, Kajari Buka Ruang Pengawasan Publik
Menurut Yoyon, penerapan tabela juga memberikan efisiensi dalam proses budi daya. Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan buruh tani, seperti persiapan lahan dan tanam pindah, dapat dikurangi.
Meski demikian, buruh tani tetap diberdayakan saat masa panen. Pola tersebut dinilai dapat meringankan pekerjaan petani sekaligus tetap memberikan penghasilan bagi buruh tani.
“Jadi kita efisiensi, meringankan buruh tani, juga meringankan kerja kita,” ujarnya.
Yoyon menilai, pemanfaatan MT3 menjadi keuntungan tersendiri bagi petani karena lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan setelah MT2 kini dapat kembali menghasilkan.
“Lahan yang tadinya tidak dimanfaatkan, sekarang dimanfaatkan,” katanya. (awr)
