RADARCIREBON.ID -Situs Cimandung menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang ramai dikunjungi masyarakat.
Berada di kawasan perbukitan Desa Kerandon Kecamatan Talun, Situs Cimandung menawarkan perpaduan nuansa religi, sejarah, dan keindahan alam.
Tidak hanya warga Cirebon, peziarah dari Bandung, Tasikmalaya, hingga berbagai daerah lainnya kerap datang untuk berziarah maupun menjalani tirakat.
Baca Juga:Dari Acara Peringatan Hari Jadi ke-47 RSUD ArjawinangunRumah Tua Terbakar, Kerugian Rp250 Juta
Salah satu kuncen Situs Cimandung, Nartija mengatakan, situs tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan spiritual Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon.
“Kalau makamnya berada di Cirebon Girang. Kalau di sini hanya petilasannya saja. Konon menjadi tempat Mbah Kuwu menimba ilmu agama Islam,” ujarnya kepada Radar Cirebon, kemarin.
Di kawasan situs juga terdapat pohon yang dikenal masyarakat sebagai Pohon Raga Sakti. Pohon langka itu memiliki bentuk batang menyerupai dua ular yang saling membelit, sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi para peziarah.
Selain itu, Situs Cimandung memiliki tujuh sumur keramat yang masing-masing dipercaya memiliki makna dan filosofi tersendiri.
Salah satu yang paling dikenal adalah Sumur Kahuripan yang diyakini dapat membawa ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga.
Pada malam-malam tertentu, seperti Jumat Kliwon maupun saat peringatan hari besar Islam, jumlah pengunjung biasanya meningkat signifikan.
Sebagian datang secara rombongan, sementara lainnya memilih berziarah secara perorangan.
Keberadaan Situs Cimandung tidak hanya memiliki nilai spiritual dan sejarah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran peziarah dimanfaatkan warga untuk menjual hasil bumi dan makanan tradisional.
Baca Juga:Menjaga Nyala Kemanusiaan dari Cirebon untuk DuniaHindari Antrean, SMPN 1 Sumber Layanani Pendaftar SPMB lewat WhatsApp
“Kalau hari-hari tertentu biasanya ramai rombongan. Ada yang berziarah, bertirakat, ada juga yang mandi dan mengambil air dari sumur yang ada di sini,” pungkas Nartija. (awr)
