Namun, penggunaan pompa bergantung pada ketersediaan sumber air. Jika air permukaan tidak tersedia, pemerintah mengupayakan pemanfaatan air tanah dalam melalui koordinasi dengan BBWS.
“Perpompaan kalau ada sumber airnya. Kalau ada sumber airnya, kita lakukan dengan sumur air tanah dalam,” jelas Deni.
Untuk mencari sumber air tanah, pemerintah terlebih dahulu melakukan kajian geolistrik. Sebab, tidak semua wilayah yang terdampak kekeringan memiliki cadangan air tanah yang bisa dimanfaatkan.
Baca Juga:Usia Produktif Lebih Dominan, Temukan 144 Kasus Baru HIV, Dinas Kesehatan Perkuat Screening dan Pengobatan Jemput Masa Depan di Expo Pendidikan SMA Santa Maria 1 Cirebon, Hadirkan 25 Perguruan Tinggi Swasta Terkenal
Kondisi tersebut menjadi kendala di wilayah Sedong. Selain situ yang telah mengering, karakteristik tanah di kawasan tersebut dinilai kurang mendukung untuk pengeboran.
“Kalau Sedong memang situ-nya juga sudah kering. Kalau untuk air tanah juga di sana memang cenderung tanah lempung. Dulu pernah dilakukan pengeboran juga tidak keluar air,” ungkapnya.
Persoalan semakin berat karena Kabupaten Cirebon tahun ini tidak mendapatkan alokasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Akibatnya, jika tanaman petani benar-benar mengalami gagal panen akibat kekeringan, tidak tersedia skema klaim asuransi untuk menutup kerugian dan biaya tanam kembali.
Deni mengatakan, pemerintah daerah akan mengupayakan bantuan lain bagi petani yang mengalami gagal panen. Salah satunya dengan mengajukan bantuan benih untuk musim tanam berikutnya.
“Kalau untuk yang gagal panen sekarang, kemungkinan bisa kita usulkan untuk bantuan benih di musim berikutnya,” katanya.
Menurut Deni, penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan pompa. Strategi jangka panjang juga diperlukan melalui perbaikan pola tanam.
Baca Juga:Muludan di Pengguron Pegajahan CirebonASN Pensiun 169 Orang, PPPK Juga Sudah Ada yang Pensiun
Petani di wilayah rawan kekeringan didorong mempercepat masa tanam saat awal musim hujan. Dengan begitu, pertumbuhan tanaman diharapkan berlangsung ketika ketersediaan air masih mencukupi.
Langkah tersebut juga untuk mencegah musim tanam kedua masuk terlalu jauh ke periode kemarau.
“Pada saat awal musim tanam hujan, harus buru-buru lebih dulu. Supaya meminimalisir atau mengendalikan musim kedua jangan sampai jatuh pada musim kemarau lebih lama,” terang Deni.
Deni menegaskan, pompa maupun sumur air dalam memiliki keterbatasan jika suatu wilayah tidak memiliki sumber air.
“Kalau memang sumber airnya tidak ada, susah mau bagaimana. Sehingga pola percepatan waktu tanam yang perlu dilakukan,” pungkasnya.
