Ketua Tim Kerja Pelayanan Keperawatan RSD Gunung Jati Setya Vahani SKp MKep mengakui adanya lonjakan pasien di RSD Gunung Jati sejak pekan kedua bulan September 2026 atau tepatnya pada 7 September 2026. Berdasarkan data yang ada, kata Setya Vahani, tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang sebelumnya berada di kisaran 45 hingga 50 persen, kini melonjak drastis hingga mendekati 80 persen.
Dari total 518 tempat tidur yang disediakan, sekitar 79 persen atau 409 pasien saat ini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Gunung Jati. Pasien yang datang tercatat berimbang antara dari dalam kota maupun dari wilayah kabupaten.
Akibat dari lonjakan jumlah pasien, kata Setya, berdampak langsung pada penumpukan (bottleneck) pasien di Instalasi Gawat Darurat atau IGD. Ruangan perawatan anak yang mencakup kelas 1, 2, 3, hingga VIP dengan total kapasitas 87 tempat tidur (termasuk 3 ruang isolasi) terpantau terisi penuh.
Baca Juga:Jaga Sawah Jabar-Banten Tetap Produktif, Kementan Bangun 999 Jaringan Irigasi TersierNikmati Pensiun, Purbaya: Saatnya Mancing
Akibat keterbatasan ruang pada Kami situ (17/9/2026), sekitar 15 pasien anak tertahan di IGD dan harus menunggu ketersediaan kamar. Pasien di IGD biasanya diarahkan ke ruang transit (IGD lantai 2) dengan waktu tunggu mencapai 6 jam atau lebih sebelum bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Lebih jauh Setya menjelaskan, sebagian besar pasien yang datang merupakan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan). Ia memastikan bahwa penempatan tempat tidur harus mematuhi regulasi kelas kepesertaan BPJS, ditambah pertimbangan jenis penyakit, usia, jenis kelamin, serta ketersediaan kelas perawatan. Hal inilah yang membuat proses pemindahan pasien dari IGD ke ruang perawatan tidak bisa dilakukan secara instan.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Cirebon dr Maria Listiawaty mengatakan kondisi IGD yang padat terlihat di antaranya di RSD Gunung Jati dan RS Sumber Kasih. “Saya melihat sendiri kondisi IGD-nya memang crowded,” kata Maria kepada Radar Cirebon usai menghadiri rapat di DPRD Kota Cirebon pada Kamis (17/9/2026).
Dinkes juga menerima laporan warga yang meminta bantuan mencarikan kamar perawatan, termasuk untuk pasien anak. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan. Namun, Maria belum bisa menyebut penyakit tertentu sebagai penyebab utama kenaikan BOR. Data 10 besar penyakit biasanya baru tersedia untuk bulan sebelumnya, sedangkan September masih berjalan.
