Cegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja, Kuncinya Fondasi Keluarga serta Edukasi Berkesinambungan

Ki Darmaningtyas
Ki Darmaningtyas
0 Komentar

Bisa jadi dia malah happy karena perbuatan jahatnya itu dicita-citakan sebagai obsesi untuk mendapat perhatian orang banyak,” ungkapnya.

Fenomena memamerkan perilaku menyimpang di ruang digital, lanjutnya, membuat pelaku seolah merasa terbebas dari rasa bersalah.

Hal tersebut terjadi karena tujuan psikologis untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan publik telah terpenuhi secara instan melalui media sosial.

Baca Juga:BNPT Perkuat Ketahanan Digital dan Kearifan Lokal melalui Regenerasi Duta Damai di Sumatera UtaraKetika PJJ Berlaku Lagi, Ini Ungkapan Sobat Zetizen

Ki Darmaningtyas menegaskan, upaya menangkal radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya dibebankan kepada negara.

Diperlukan dukungan ekosistem pendidikan yang kuat serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar upaya pencegahan dapat berjalan secara optimal.

Ketika disinggung mengenai peran pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ia menilai edukasi publik perlu dilakukan secara berkesinambungan, bukan sekadar melalui kegiatan penyuluhan yang bersifat sesaat.

“Kegiatan penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan melalui pendidikan publik, bukan sekadar penyuluhan sekali dua kali, agar masyarakat selalu diingatkan dan memiliki daya tahan terhadap pandangan sempit,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan dialogis untuk meredam penyebaran paham radikalisme yang berkedok agama dan rentan memengaruhi kalangan anak muda.

Menurutnya, penyampaian edukasi harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat agar masyarakat mampu memahami persoalan dan menyadari kekeliruan dalam cara pandangnya.

“Kalau sudah menyangkut pandangan yang sempit dalam hal keagamaan, penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus melalui edukasi, dialog, dan adu argumen sampai orang itu punya kesadaran bahwa dirinya keliru, meskipun itu memerlukan waktu, energi, dan biaya yang besar,” imbuhnya.

Baca Juga:Mewaspadai Importasi Konflik Global: Menjaga Generasi Muda dari Jebakan Propaganda EkstremisSSB Garuda Jaya Sukses Kawinkan Gelar Festival Sepak Bola Anak Desa Zona Pantura

Sebagai langkah preventif jangka panjang, ketahanan keluarga dinilai menjadi benteng utama dalam mencegah masuknya pengaruh radikalisme dan perilaku kekerasan pada anak serta remaja.

Orang tua diingatkan untuk kembali mengambil peran dalam memberikan pendidikan secara langsung kepada anak.

Selain itu, ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai perlu dibatasi karena berpotensi merenggangkan hubungan emosional antara anak dan orang tua di lingkungan rumah.

Ia menyebut pembatasan penggunaan gawai telah banyak diterapkan di sejumlah negara maju karena terdapat perhatian terhadap hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak serta remaja.

0 Komentar