MAJALENGKA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, H Agus Tamim ST MSi mengatakan penetapan status tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Majalengka Nomor 100.3.3.2/Kep-567/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan, dan Lahan.
“Penetapan status ini merupakan tindak lanjut atas surat BMKG Jawa Barat tertanggal 27 April 2026 mengenai prediksi musim kemarau. Puncak musim kemarau di wilayah Majalengka diperkirakan terjadi pada Agustus 2026,” ujar Agus kepada Radar, Senin (22/6).
Baca Juga:Warga Keluhkan Pemadaman Listrik Tanpa PemberitahuanAbrasi Sungai di Cibodas Kian Mengkhawatirkan, Lahan Pertanian Tergerus 10 Meter
Agus menjelaskan, berdasarkan pengalaman dalam dua tahun terakhir, terdapat dua potensi bencana utama yang perlu diantisipasi. Pertama, kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di sejumlah titik lereng gunung yang berbatasan dengan kawasan Gunung Ciremai.
“Ancaman kebakaran lahan berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Majalengka karena masih banyak terdapat kawasan hutan belukar,” katanya.
Selain karhutla, puluhan desa juga diperkirakan mengalami krisis air bersih akibat menurunnya debit air tanah. Kondisi tersebut diperparah karena sebagian wilayah belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Berdasarkan data tahun 2023, terdapat 22 desa di Kabupaten Majalengka yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih. Desa-desa tersebut tersebar di Kecamatan Palasah, Sumberjaya, Jatiwangi, Kadipaten, Dawuan, Kasokandel, Jatitujuh, dan Kertajati.
“Untuk mengatasi kekurangan air bersih di sejumlah desa tersebut, kami telah berkoordinasi dengan PDAM yang selama ini membantu memasok air bersih ke wilayah terdampak,” jelasnya.
Agus menambahkan, kemampuan BPBD dalam mendistribusikan air bersih masih terbatas karena jumlah armada tangki air yang dimiliki belum memadai.
“Kami juga berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan yang berada di sekitar wilayah terdampak agar dapat membantu memasok air bersih kepada masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga:Pastikan Pengerjaan Jalan Sesuai Spek, Pemdes Paningkiran Awasi Langsung Proyek RehabilitasiSPAM Cibeureum Didorong Segera Terwujud, Solusi Kekeringan Kuningan TimurÂ
Sementara itu, musim kemarau mulai dirasakan para petani di Kabupaten Majalengka. Berkurangnya pasokan air memaksa sebagian petani mencari sumber air alternatif dengan mengebor sumur menggunakan mesin diesel.
Salah seorang petani, Karim (52), warga Desa Ciparay, Kecamatan Leuwimunding, mengaku mulai khawatir tanaman padinya terdampak kekeringan.
