RADARCIREBON.ID – Perguruan tinggi dituntut memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui hilirisasi hasil penelitian agar dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sosial. Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi STMIK IKMI Cirebon sebagai penyelenggara utama.
Diskusi ilmiah ini mengangkat tema Peluang dan Tantangan Kolaborasi Riset dan Inovasi Daerah dalam Mendukung Pembangunan Kabupaten Cirebon. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka di Aula kampus STMIK IKMI Cirebon, Selasa (23/6/2026), dengan diikuti sekitar 75 mahasiswa yang tampak antusias menyimak pemaparan narasumber.
Ketua STMIK IKMI Cirebon, Assoc, Prof Dr Dadang Sudrajat SSi MKom menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi institusi pencetak lulusan tanpa dampak sosial yang jelas. Kampus, kata dia, harus berperan aktif dalam mendukung pembangunan daerah melalui riset dan inovasi yang aplikatif.
Baca Juga:Dari Acara Peringatan Hari Jadi ke-47 RSUD ArjawinangunRumah Tua Terbakar, Kerugian Rp250 Juta
“Kami ingin STMIK IKMI Cirebon menjadi bagian penting dalam penggerak pembangunan di Kabupaten Cirebon. Riset dosen dan mahasiswa harus berorientasi pada pemecahan masalah riil di masyarakat, bukan sekadar memenuhi angka kredit akademik,” ujar Dadang.
Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, Dangi SSi MSc ST.
Ia memaparkan capaian pembangunan sosial ekonomi Kabupaten Cirebon periode 2023–2025 yang menunjukkan tren positif, dengan angka kemiskinan turun menjadi 10,2 persen dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 73,27.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberlanjutan capaian tersebut memerlukan inovasi berbasis riset di tengah keterbatasan sumber daya. Bapperida, kata dia, berkomitmen mengoptimalkan perannya sebagai science-based policy atau kebijakan berbasis data ilmiah.
“Daerah membutuhkan ide-ide segar dan terobosan baru agar perekonomian terus bergerak maju. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan setiap kebijakan publik didasarkan pada kajian ilmiah yang valid,” kata Dangi.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama STMIK IKMI Cirebon, Assoc, Prof Dian Ade Kurnia, MKom PhD memaparkan peluang kolaborasi dari sisi internal kampus. Dari total 1.586 mahasiswa aktif, sekitar 49,30 persen atau 782 mahasiswa berasal dari Kabupaten Cirebon, dengan sebaran terbesar di Kecamatan Talun, Gunung Jati, Mundu, Sumber, dan Kedawung.
