MAJALENGKA – Industri genteng di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, kembali bergairah. Permintaan genteng dari berbagai daerah di Indonesia meningkat dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya kebutuhan material bangunan untuk sektor perumahan.
Namun, tingginya permintaan belum mampu diimbangi kapasitas produksi. Sejumlah pabrik genteng justru mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga tidak dapat memenuhi seluruh pesanan.
Pemilik pabrik genteng, Iri Nasir, mengatakan pesanan datang dari berbagai daerah, mulai Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatra.
Baca Juga:Porsadin VIII Tingkat Kabupaten Indramayu Ditutup, Kecamatan Karangampel Raih Juara Umum Bupati Lucky Hakim Gelontorkan Dana Hibah Rp13 Miliar untuk Guru MDT
“Permintaannya naik drastis. Hampir setiap hari ada pesanan masuk dari berbagai daerah, tetapi tidak semuanya bisa kami penuhi,” ujarnya, Minggu (5/7).
Menurutnya, dari 20 mesin produksi yang dimiliki, hanya delapan unit yang beroperasi setiap hari karena keterbatasan tenaga kerja.
“Satu mesin membutuhkan sekitar 20 pekerja. Kalau seluruh mesin beroperasi, kami membutuhkan sekitar 400 orang. Saat ini tenaga kerja yang tersedia hanya cukup untuk mengoperasikan delapan mesin,” katanya.
Setiap mesin mampu menghasilkan sekitar 2.000 keping genteng per hari. Namun setelah memperhitungkan tingkat kerusakan saat proses pembakaran dan pengeringan, produksi layak jual mencapai sekitar 1.600 keping per mesin atau sekitar 12.800 keping per hari dari delapan mesin yang beroperasi.
Jumlah tersebut, kata Iri, masih jauh di bawah permintaan pasar sehingga banyak pesanan terpaksa ditolak.
“Pasarnya sangat besar, tetapi kami tidak sanggup memenuhi seluruh permintaan karena kekurangan tenaga kerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendala utama bukan terletak pada ketersediaan bahan baku. Pasokan tanah liat untuk produksi masih mencukupi. Persoalan terbesar justru minimnya regenerasi tenaga kerja.
Baca Juga:Kesiapsiagaan, Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan Gelar Simulasi Penyelamatan Darurat di Ketinggian FlarePeserta KB MOW dan MOP Lampaui Target
Sebagian besar pekerja di pabrik genteng saat ini berusia di atas 50 tahun, sedangkan minat generasi muda untuk bekerja di industri genteng terus menurun.
“Anak-anak muda sekarang lebih memilih bekerja di pabrik, sektor konstruksi, atau merantau ke kota. Padahal jam kerja di pabrik genteng relatif singkat,” katanya.
Ia menjelaskan, aktivitas produksi dimulai pukul 06.30 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Upah harian yang diberikan sebesar Rp75 ribu untuk pekerja laki-laki dan Rp50 ribu bagi pekerja perempuan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka, Heri Rahyubi, membenarkan adanya peningkatan permintaan genteng. Berdasarkan data yang dihimpun, pesanan meningkat sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
