Kedua, pertandingan Spanyol melawan Argentina di area Piala Dunia boleh dikatakan jarang terjadi. Jadi, persaingannya mereka bukan rivalitas papan atas. Tapi banyak yang menduga, final ini justru akan menjadi trigger, pemicu awal dari “derby” abadi seperti halnya Brasil melawan Italia atau Jerman. Mencontoh Inggris melawan Argentina di Piala Jules Rimet 1966, dari sanalah perseteruan sengit penuh dendam dan hujatan berlangsung hingga kini dan nanti.
Ketiga, yang paling seru, tahun lalu sebetulnya mereka harus bertanding pada Finalissima di Doha, Qatar yang ditunggu semua mata dunia. Namun sayang, menjadi batal terlaksana. Konon desas-desusnya telah terjadi premature match di antara delegasi Spanyol dan Argentina. Tapi kesantunan yang disampaikan FIFA, karena padatnya kalender kompetisi antarklub yang tengah memuncak di akhir kompetisi masing-masing. Sehingga, sama-sama keberatan melepaskan pemainnya untuk sekadar main di suatu panggung final komersil akal-akalan FIFA yang dianggap wadah cari duit dari hak siar dan sponsor. Padahal, pertemuan gacoan Euro dan jawara Copa America sebagai dua kutub terkuat dunia sepak bola hingga saat ini. Pasti akan jadi ajang menarik sebagai The Real Final World Cup.
Apalagi memperhitungkan faktor “kedekatan” budaya sepak bola keduanya. Dimana, banyak sekali pemain dan pelatih profesional Argentina berkiprah (baca: membalaskan penjajahan Spanyol dengan bermain dan mendominasi La Liga). Alfredo di Stefano (legenda Real Madrid), Mario Kempes (ikonik Valencia), Maradona (bintang Barcelona dan Sevilla), Lionel Messi (debutan Barcelona), Diego Simeone (kategori Hall of Fame Atletico Madrid).
Baca Juga:Pendalaman Polisi pada Peristiwa Laka Maut di Jalan Turun GronggongPemkot-DPRD Harus Beri Contoh Efisiensi, Tunjangan hingga Kegiatan Seremonial Wajib Dievaluasi
Kalau tiga fakta di atas belum cukup menjadi alasan sebagai final langka yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir, maka final Eropa vs Amerika dan final juara Euro melawan jawara Copa America Senin (20/7) dini hari nanti, belum tentu “secara kebetulan” akan bisa terjadi lagi dalam 100 tahun ke depan.
Coba pertimbangkan faktor perkembangan sepak bola dunia dengan segala kemajuan teknologinya dan pertumbuhan budayanya. Saat ini, perwakilan Afrika dan Asia sudah merambah secara pasti di turnamen terbesar. Masuknya Maroko ke semifinal Piala Dunia empat tahun lalu, dan lolosnya debutan Tanjung Verde dari penyisihan grup, konsistensinya prestasi Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara teluk timur tengah seperti Iran dan Irak serta Arab Saudi, juga Australia, adalah indikasi meratanya standar prestasi. FIFA punya program pembinaan berjenjang yang rapi untuk seluruh anggotanya.
