RADARCIREBON.ID- Siapa penguasa sejati Copa America sejak 1916? Tepat, Argentina! Bukan Brasil atau Uruguay. Argentina sudah 16 kali juara di sana. Lalu, mana yang paling dominan di Euro sejak 1960? Benar, Spanyol! Tidak Jerman atau Prancis. Spanyol sudah 4 kali angka trofi di situ. Kenapa pula final World Cup 2026 (Piala Dunia FIFA 2026), Senin (20/7) dini hari nanti WIB, pantas menyandang predikat sebagai final langka yang tertunda? Bahkan belum pernah terjadi lebih dari satu abad lamanya?
Ya, sejak Piala Dunia digagas awal, dan dihelat pertama tahun 1930, selalu dan selalu menjadi ajang panas sebagai bukti sengitnya persaingan berbau kolonialisme dan “penyerbuan” Eropa ke benua baru di sisi barat. Bangsa-bangsa Eropa datang membawa “mainan” terbuat dari kulit lembu yang disamak, berbentuk bulat, disatukan dengan beberapa anyaman jahit. Ditendang menggelinding dan diperkenalkan kepada bangsa-bangsa pribumi sebagai salah satu alat diplomasi untuk “mempertahankan” wilayah dan penguasaan.
Pendek kata, sepak bola kemudian diterima secara aklamasi sebagai game pembawa semangat yang mengusung kalimat kompetitif sebagai tajuk utama: aku menang, kamu kalah!
Baca Juga:Pendalaman Polisi pada Peristiwa Laka Maut di Jalan Turun GronggongPemkot-DPRD Harus Beri Contoh Efisiensi, Tunjangan hingga Kegiatan Seremonial Wajib Dievaluasi
Lebih seratus tahun kemudian, sekarang mencapai final Piala Dunia edisi ke-23 tahun 2026. Belum pernah sekalipun tercatat final sesungguhnya, mempertemukan antara juara Euro dan Copa America. Final dua kutub sudah 11 kali terjadi, hampir separuh sejarah final Piala Dunia monogen yang mempertemukan sepihak wakil Eropa dengan Eropa atau delegasi Amerika melawan Amerika.
Final heterogen pertama kali terjadi di Piala Dunia FIFA 1958 (Brasil mengalahkan Swedia). Kemudian berturut-turut 1962 (Brasil menumbangkan Cekoslovakia), 1970 (Brasil membungkam Italia), 1978 (Argentina menjegal Belanda), 1986 dan 1990 (Argentina menghentikan Jerman Barat dan kemudian Jerman Barat membalas Argentina), 1994 (Italia dikalahkan Brasil), 1998 (Brasil bertekuk lutut kepada Prancis), 2002 (Brasil menghantam Jerman), 2014 (Jerman memukul Argentina) dan terakhir 2022 (Argentina membekap Prancis).
Lalu kembali ke pertanyaan, di mana letak kelangkaan final nanti, pertemuan Spanyol dengan Argentina? Boleh dicatat, silahkan diingat, jangan dilupakan, jangan pula dijadikan perdebatan. Boleh-boleh saja diabaikan, tidak masalah.
Pertama, ini final Piala Dunia kejadian pertama kali dalam sejarah antara Spanyol dan Argentina. Serunya, dalam dunia World Cup, Spanyol dan Argentina bisa dibilang “pemain baru”. Keduanya sama-sama membisu dan tidak banyak berbicara dalam edisi lama Piala Jules Rimet (1930-1970). Argentina baru muncul 1978 dan Spanyol 2010. Tentu saja final Spanyol versus Argentina akan menjadi sejarah fundamental untuk ke depan. Apalagi melihat sisi kedekatan histrorikal di luar sepak bola, di mana, Bahasa Spanyol sejak lama menjadi resmi di negara Argentina.
