Selain itu, Sigit juga menanggapi rencana pelaporan hukum yang dilakukan oleh sebagian pegiat sejarah. Ia mengatakan PT KAI memiliki tim hukum internal yang siap mengikuti proses hukum yang berjalan. “Kami menghargai proses hukum yang ada,” singkatnya.
Sementara itu, Walikota Cirebon Effendi Edo menyampaikan penjelasan mengenai latar belakang pembongkaran jembatan rel tersebut. Ia mengatakan proses yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan sejarah kawasan. Menurutnya keputusan tersebut diambil setelah melihat kondisi struktur jembatan yang dinilai berisiko. Dalam rapat tersebut ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Cirebon memohon maaf kepada masyarakat Kota Cirebon atas kegaduhan yang terjadi,” ujarnya. Ia menjelaskan kekhawatiran utama berkaitan dengan kondisi struktur jembatan yang dinilai sudah rapuh. Selain itu terdapat faktor lain yang menjadi pertimbangan, yakni potensi hambatan aliran sungai.
Baca Juga:Satu Kloter Jamaah Haji Beda Hotel, Koordinasi Jadi KunciUang Lift Rp770 Juta Proyek Gedung Setda, Furqon: Disita dari Indo Raya, Bukan dari Pak Azis
Menurutnya jika aliran air mendorong struktur jembatan yang sudah rapuh, risiko kerusakan dapat semakin besar. Kekhawatiran lain berkaitan dengan keberadaan pipa gas alam yang berada di sekitar lokasi. Menurutnya jika struktur jembatan roboh akibat dorongan air, dampaknya dapat membahayakan infrastruktur tersebut. “Kalau didorong air dan menimpa pipa gas alam, itu sangat berbahaya,” katanya.
Meski demikian, pemerintah kota tetap berupaya menjaga nilai sejarah kawasan tersebut. Salah satu rencana yang disampaikan adalah pembangunan replika jembatan dengan narasi sejarah. Konsep tersebut disebut menyerupai replika Pedati Gede Pekalangan yang selama ini menjadi salah satu ikon sejarah di Kota Cirebon.
Replika jembatan nantinya akan dilengkapi dengan foto dan informasi sejarah mengenai jalur kereta api lama di kawasan Kalibaru. Tujuannya agar generasi muda tetap mengenal sejarah perkembangan transportasi di kota tersebut. “Anak-anak kita harus tahu sejarahnya,” ujar Edo.
Ia juga menjelaskan bahwa program penataan kawasan Sukalila merupakan bagian dari upaya memperbaiki wajah kawasan sungai di pusat kota. Menurutnya kawasan tersebut berada di jalur protokol Kota Cirebon sehingga perlu ditata lebih baik.
